Tiada Dusta CiptaMu Sempurna

Langkah kecil mengukir prasasti di atas pasir kehidupan. Debu beramai-ramai bergantian dengan hujan dan terik mentari melapisi kemudian melapukkan. waktu terus berjalan hingga hitungan tahun yang tak terasa menuakan usia. Pun sakit, pedih, senyum, dan tawa. Aku meyakinkan diri tidak melihat dan mengingat apa yang dipermukaan orang lakukan saat melihatku, kemudian mereka berselisih denganku. Mereka perhatian, tapi tidak melihat apa yang aku analisa. Merasakan setiap yang menyapa dan mermbiarkan berlalu adalah metode andalan agar aku dapat totalitas menjalani kehidupan pada fase itu. Lama memang membuahkan sebuah hasil analisa yang bertujan menentukan pilihan.

Aku adalah aktor kehidupanku, sekitarku adalah pendukung suasana yang punya peran mempengaruhi pikiranku. Tapi aku juga sutradara kehidupanku, itu yang kadang mereka lupakan dan memerankan tugas hakim dalam kehidupan padaku. Tidak sepenuhnya salah hanya saja kadang mereka tidak memperhitungkan waktu ketika memberikan saran padaku.

Sekarang aku berhadapan dengan musim yang jauh berbeda dengan musim-musim lalu. Prasasti di atas pasir benar-benar hilang dan menjadi gumuk tinggi. Tidak serta merta gumuk ini menebal, aku pun tak menyadari. Lagi-lagi dia yang di sekitarku membunyikan alarm jauh-jauh hari untuk menyambut musim ini, bukan musim yang jahat tapi justru musim yang indah. Aku takjub pada gumuk yang tak memaksaku untuk fokus memperhatikan setiap butir pasir yang datang perlahan-lahan.

Semoga, hujan tak merobohkan gumuk ini. Musim kemarau yang tak jelas dan kadang turun hujan sudah mulai sejak semalam di kota penuh dengan pelajar dan pedagang. Wilayah Provinsi yang terlukis seperti kerucut di Peta Pulau Jawa dengan ujung yang berapi setiap empat tahun sekali. Angin yang tak tentu arahnya tak mengamuk dan menerbangkan butir-butir pasir ini.

Susunanmu yang tak mengenal letih, indahmu karena kesungguhan mengajarkanku sebuah kesungguhan dan kerelaan serta ketulusan yang tak pernah kau deskripsikan kepada sang bayu atau pun benda langit yang menjadi saksi usahamu… Dan aku akan selalu bersabar mengikuti gerakmu.

KuasaMu tak pernah terbantahkan, CaraMu indah walau sering tak kumengerti. Gumuk ini bukti Nikmatmu yang tak bisa kudustakan. Tuhan, aku tak tahu cara bersyukur yang baik tapi semampuku untuk tetap menjaga tanpa mengubahnya karna ia CiptaanMu yang sempurna.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s