Perjalanan dan Pertemuan

Perjalanan bersama waktu dan musim membawa cara yang unik untuk mempertemukan seseorang pada yang indah. Keindahan yang tak kasat mata berupa kenaikan derajad dan kelapangan hati. Tuhan tak pernah kehabisan cara. Ia Yang Maha Kreatif mengukir prasasti hidup sebelum kita terlahir. Jangan pernah ragu pada apa yang Dia berikan karena Ia menguji hambanya pada kesenangan, kesusahan, kesehatan, dan usia. Manusia hanya diberikan kesempatan untuk menjalani dan merubah sesuai kemampuan masing-masing, namun campur tanganNya kadang membuat resah.

Tuhan tidak pernah ingkar, tiap langkah dalam perjalanan manusia disetingNya sebuah pertemuan yang indah. Indah bagi manusia yang berpikir dan bersyukur. Setiap yang tumbuh pasti Ia patahkan dan setiap yang lahir pasti ia matikan, walau kadang ia sambungkan lagi atau hidupkan lagi. Bukan bentuk kebencian Tuhan pada hambanya menghidupkan dan mematikan, menggulir dan menghentikan, atau menyambung dan mematahkan. Terima saja, manusia akan mengerti setelah semua terjadi.

Jika teman pergi ditengah perjalanan maka ingat saja kapan pertemuan di mulai. Sebuah perjalanan bukan berarti berhenti dan selalu bersama karena jalan pasti ada persimpangan. Seperti watak manusia yang kadang cocok dan cekcok. Karakter manusia selalu dinamis mengikuti ritme waktu dan musim. Alam sebagai penyeleksi memutus dan memilihkan teman yang mampu seritme.

Kehendak untuk memperjuangkan hubungan bukan sebuah kesalahan. Perjalanan pasti mengajarkanmu pada watak pasangan/sahabat  Bagi kalian yang memilih bertahan pada perjalanan yang menghadirkan pertemuan ini tips yang bisa kalian lakukan:

  1. Jangan pernah menghakimi sikap pasangan/sahabat kalau tidak tahu permasalahan. Cukup tanyakan dan hargai pernyataannya.
  2. Jangan pernah membahas sikap sahabat/pasangan ketika dia dalam kondisi depresi, pandailah menjadi pengamat ekspresi.
  3. Ingatlah selalu perilaku orang depresi itu kadang tidak terbendungkan, rasakan saja bila itu terjadi pada dirimu sendiri. Pandai-pandailah mengukur baju sendiri (instropeksi diri).
  4. Selanjutnya sesuaikan sikap dengan sikon ketika ingin berbicara mengenai teguran kepada sahabat/pasangan.

Baik, sahabat kata… terima kasih telah membaca, maka saya mohon tinggalkan barisan abjadmu pada kolom komentar tentang opini saya. Semoga Tuhan melimpahkan keberkahan pada kalian. Aamiin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s