27 Maret 2014

Delapan hari sejak aku berdiri di hadapan dua doktor dan dokter dalam ruang yang berukuran 3×4 m didampigi dua temanku yang senantiasa menguatkan ku dalam drama yang menakjubkan. Baju putih berlapis jas biru, rok panjang hitam nan longgar, jilbab putih, dan sepatu dengan tumit 3 cm membungkus tubuhku yang mulai turun berat badan sebanyak 4kg.  Selama satu setengah jam aku berdiri di hadapan mereka dan mempertanggungjawabkan apa yang tertuang pada tumpukan kertas. sebendel kertas itu aku susun selama 11 bulan,

Aku lebih mengenalnya dengan drama.Sebuah ritual yang harus diikuti setiap insan akademisi untuk dapat diakui sebagai yang telah sarjana. Pikirku, aku akan benar-benar “dimanusiakan” apa yang aku jalani ternyata aku hanya melalui sebuah syarat yang fleksibel. Kedua doktor itu keluar masuk bergantian satu selesai keluar dan begitu seterusnya. Apalah aku protes sedemikian, toh keberadaanku ini telah mencoreng moreng muka mereka setelah apa yang ku perbuat tahun 2012. hah. percuma juga aku mengeluh, toh tidak dapat mengubah apa yang aku ingini.

aku istirahat sejenak–tiba-tiba tubuhku mulai bergetar mengingat kejadian itu–kecewa dan marah saat itu masih belum bisa hilang, mengendap terlalu dalam.

Aku harus bangkit, jika aku mengerjakan semakin cepat itu lebih baik. aku akan cepat keluar dari semua ini dan kemudian menyimpan rapay setiap kenangan di dalamnya. Mungkin setelah itu aku menjadi salah satu yang tidak ingin mengingatgedung penuh lumut. Aku impaskan dengan kewajibanku sebagai yang dididik. kemudian aku bebas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s