PELAKSANAAN THERAPEUTIC COMMUNITY REMAJA KORBAN PENYALAHGUNAAN NAPZA

Oleh : nunung elisabet, elzha09@gmail.com

Abstrak

Penelitian ini bertujuan mendskripsikan pelaksanaan therapeutic community remaja korban penyalahgunaan napza pada fase younger di Panti Sosial Pamardi Putra Yogyakarta. Subjek penelitian, yaitu satu anak laki-laki usia sekolah mengenah korban penyalahgunaan napza fase younger di Panti Sosial Pamardi Putra Yogyakarta. Teknik pengumpulan data yang dipilih, yaitu wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Kasus YN yang selama satu tahun menjalani program therapeutic community pada tahap younger dan program ketrampilan serta mengalami kambuh. Dari data yang ada menunjukkan bahwa peran dan treatment konselor pribadi pada kegiatan static group mempengaruhi perkembangan YN selama menjalani terapi dan rehabilitasi. YN dapat berdamai dengan orang tua dan lulus dari proses terapi dan rehabilitasi.

Kata kunci: orang tua, terapi, residen

 

PENDAHULUAN

Menurut Slavin (2007: 89), bahwa remaja rentan masalah. Permasalahan yang sering timbul mencakup krisis identitas diri dan konflik emosi. Jika permasalantersebut tidak dapat diatasi, maka dapat menimbulkan permasalahan lain seperti kenakalan remaja dan penyalahgunaan obat. Peneliti menemukan kasus YN, inisial seorang laki-laki berusia 17 tahun sedang mengikuti terapi dan rehabilitasi sosial terpadu dengan metode dasar therpeutic community selama 10 bulan dan saat ini berada pada tahap younger di Panti Sosial Pamardi Putra Yogyakarta.

Alternatif penanganan permasalaahan akibat penyalahgunaan napza menurut Sumiati,dkk (2009: 163-170), antara lain rehabilitasi medis, pendekatan therapeutic community, dan pendekatan terpadu. Hasil wawancara dengan koordinator pekerja sosial di Panti Sosial Pamardi Putra Yogyakarta, Bapak Purwoto memberikan penegasan bahwa pelayanan korban penyalahgunaan napza di Panti Sosial Pamardi Putra Yogyakarta melalui proses terapi dan rehabilitasi sosial terpadu dengan metode dasar therapeutic community yang dirancang dalam program selama satu tahun. Therapeutic community menurut National Istitute on Drug Abuse (www.drugabuse.gov,2013), adalah sebuah metode yang digunakan untuk memulihkan korban penyalahgunaan napza. Metode ini merupakan setting kelompok para pecandu napza untuk saling mempengaruhi, mendukung, dan menyembuhkan diri sendiri maupun teman sekomunitas. Untuk mendukung kegiatan dalam komunitas maka ada norma-norma perilaku yang mengharuskan residen menjalankan norma-norma yang bertujuan membentuk perilaku, persepsi, dan etika kehidupan sosial secara wajar.

Hasil wawancara dengan koordinator pekerja sosial di Panti Sosial Pamardi Putra Yogyakarta, Bapak Purwoto waktu yang dibutuhkan untuk melaksanaan program terapi dan rehabilitasi pada setiap residen (sebutan korban penyalahgunaan napza) tidak akan sama karena disesuaikan dengan perkembangan residen dan kasus yang dialami oleh residen. Perkembangan residen dipengaruhi oleh ketahanan diri untuk sembuh, hubungan dengan residen atau konselor, serta dukungan dari orang-orang terdekat. Maka dalam therapeutic community yang menjadi sasaran terapi dan rehabilitasi tidak hanya residen namun juga orang tua/kerabat dan masyarakat. Pada tahap younger, residen di Panti Sosial Pamardi Putra Yogyakarta menjalani program terapi dan rehabilitasi meliputi programm morning meeting, encounter group, static group, PAGE, hair cut, weekend wrap up, dan learning experiences. Sedangkan keluarga subjek menjalankan program terapi family visit dan family support group.

Terapi untuk orang tua residen merupakan persiapan ketika residen ke luar dari panti menjadi tanggung jawab keluarga masing-masing. Untuk itu orang tua dan keluarga mendapat arahan untuk mengentaskan masalah-masalah yang mungkin muncul saat pecandu berproses untuk pulih dan kembali sehat melalui seminar drug addiction (Media Informasi & Komunikasi Badan Narkotika Nasional: No.06. Tahun III/2005, hal 6). Menurut  Center of Substance Abuse Treatmen (www.ncbi.nlm.gov/books/NBK64342/: 2013) tentang adaptasi pelaksanaan therapeutic community untuk remaja, yaitu konselor berperan sebagai supervisi dan evaluator program, dukungan orang tua sebagai dasar memulai orientasi, kedekatan residen dengan residen lain, konselor, serta keluarga memberikan efek maksimal pada keberhasilan terapi.

Berdasar pada kasus YN, waktu yang diperlukan YN untuk menjalankan program terapi pada fase younger terlalu lama dan program terapi untuk orang tua YN tidak dapat terlaksana. Maka perlu dilakukan penelitian untuk mendeskripsikan  “Pelaksanaan Therapeutic Communit Remaja Korban Penyalahgunaan Napza di Panti Sosial Pamardi Putra Yogyakarta.”

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui secara mendalam tentang pelaksanaan therapeutic community bagi remaja korban penyalahgunaan napza tahap younger di Panti Sosial Pamardi Putra Yogyakarta khususnya pada: pertama, Bentuk, langkah, dan aturan kegiatan terapi kelompok terhadap residen meliputi morning meeting, encounter group, static group, PAGE, hair cut, weekend wrap up, dan learning experiences; kedua, Bentuk dan langkah kegiatan terapi kelompok terhadap orang tua/kerabat residen meliputi family visit dan  family support group; ketiga, Bentuk yang mempengaruhi keberhasilan terapi dan rehabilitasi. Sehingga hasil dari penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan dan pertimbangan untuk melakukan evaluasi dan perbaikan program terapi dan rehabilitasi untuk remaja dengan therapeutic community.

METODE PENELITIAN

Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif.

Waktu dan Tempat penelitian

            Penelitian ini dilakukan di Panti Sosial Pamardi Putra Yogyakarta yang beralamat di Karangmojo, Purwomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta dengan nomor telepon (0274) 498141. Waktu penelitian dilaksanakan selama dua bulan dari bulan November sampai dengan Desember 2013.

Subjek Penelitian

            Subjek berinisial YN seorang laki-laki berusia 17 tahun sedang mengikuti terapi dan rehabilitasi sosial terpadu dengan metode dasar therpeutic community selama 10 bulan dan saat ini berada pada tahap younger. YN tidak lulus sekolah dasar dan mengkonsumsi napza jenis benzodiazepin, alkohol, kafein, dan nikotin. Latar belakang menggunakan napza karena ketidaknyamanan dari dalam keluarga serta hidup dijalanan. Selama menjalani program terapi dan rehabilitasi tidak mendapatkan dukungan dari keluarga dan mengalami kambuh.

Data, Instrumen, dan Teknik Pengumpulan Data

Data dalam penelitian ini diperoleh melalui teknik pengumpulan data sebagai berikut: observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Observasi partisipatif dalam penelitian ini, peneliti mendampingi pekerja sosial sehingga peneliti tetap tergabung dalam kegiatan terapi. Instrumen yang digunakan, yaitu panduan observasi terhadap kegiatan morning meeting dan static group serta panduan wawancara. 14 butir pertanyaan tentang kegiatan terapi terhadap residen, 2 butir pertanyaan tentang bentuk terapi terhadap orang tua residen, 2 butir pertanyaan tentang faktor pengaruh keberhasilan terapi, 3 butir pertanyaan tentang perkembangan residen, dan 2 pertanyaan tentang kegiatan hair cut dan learning experience.

Teknik Analisis Data

  Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis data kualitatif. Sehingga data yang diperoleh dalam penelitian ini bersifat apaadanya, kemudian diinterpretasikan secara kualitatif. Adapun langkah-langkah analisis data kualitatif dalam penelitian ini menggunakan Model Miles and Huberman.

HASIL PENELITIAN

            Berikut ini hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi yang peneliti lakukan selama penelitian terhadap YN tentang:

  1. Terapi terhadap residen
    1. Morning meeting merupakan acara sakral yang dilaksanakan setiap pagi hari untuk mengawali kegiatan residen dan diikuti oleh seluruhdilaksanakan pada Hari Senin-Kamis. Berikut ini aturan dan langkah dari kegiatan morning meeting di Panti Sosial Pamardi Putra Yogyakarta. YN wajib berpakaian rapi, yaitu memakai seragam batik/kemeja, celana panjang kain, serta sepatu berkaos kaki, konsentrasi, dan selalu melakukan kontak mata. Morning meeting dilaksanakan pada pukul 08.00-09.30 WIB atau selama dua jam.YNduduk siap membentuk formasi tapal kuda. Proses kegiatan morning meeting terdiri dari dua sesi. Sesi pertama didahului dengan pengisian structure pada hari sebelumnya, perkenalan anggota, berdoa, dan pelafalan the creed, kegiatan menekankan pada pengumuman, peringatan, penghargaan, motivasi, permohonan maaf, dan  masalah utama yang akan disampaikan oleh YN saat morning meeting. Inti dari structure, yaitu awarenes dan issue. Sesi kedua, kegiatan yang dilakukan YN antara lain: bermain peran, menyampaikan kata bijak, hiburan, rangkuman observasi pekerja sosial selama morning meeting. Proses selanjutnya pekerja sosial menyampaikan hasil observasi selama morning meeting dan konsep harian dari unwriten phylosophy. Kemudian doa penutup atau serenity prayer.
    2. Encountergroup adalah pertemuan kelompok yang diikuti oleh seluruh residen untuk mengungkapkan perasaan kesal, marah, dan emosi dari salah satu residen kepada residen lain. Format kegiatan berbentuk lingkaran duduk tanpa kursi. Berikut ini penjelasan tentang aturan dan langkah dari kegiatan encounter group di Panti Sosial Pamardi Putra Yogyakarta. Aturan pelaksanaan encounter group:Dilaksanakan Hari Rabu pukul 14.00-16.00 WIB atau sesuai dengan kondisi residen yang ingin melakukan encounter group secara mendadak, YN wajib aktif dan fokus pada forum. Tidak boleh dengan kata-kata vulgar dan menyangkut suku, aagama, dan ras, ancaman, serta kekerasan dalam menyampaikan pernyataan.YN menjadi bagian dalam permasalahan yang sedang menjadi topik.YN mengidentifikasi keadaan keseluruhan panti.Pelaksanaan encounter group harus didampingi pekerja sosial.Langkah-langkah pelaksanaan Encounter group: YN mengisi drop slip yang berisi pernyataan kemarahan atau kekecewaan. Encounter group dapat dilaksanakan secara mendadak sesuai kondisi residen. Shooting staradalah seorang residen menerima drop slip terbanyak. Back to backdua residen saling mengisi drop slip yang menyatakan saling kecewa atau marah.shooting star dan back to backmenjadi prioritas encounter. Tindakan yang harus di ambil oleh konselor adalah memberikan rujukan ke psikolog kepada shooting star, yang dapat dipastikan memiliki perilaku menyimpang.Get back, encounter group diadakan secara mendadakan.Residen yang bermasalah dalam kegiatan encounter group harus melakukan kontak mata.
    3. Satic groupadalah bentuk pertemuan kelompok yang digunakan dalam upaya perubahan perilaku, pertemuan ini membahas berbagai macam permasalahan kehidupan keseharian dan kehidupan yang lalu setiap residen. Hasil yang diharapkan dari kegiatan static group, antara lain: menumbuhkan kepercayaan diantara residen dan staf panti, tanggung jawab residen atas permasalahan residen lain, rasa percaya diri pada residen, residen mulai mampu memecahkan masalah.

Kegiatan static group ada kegiatan confrontation group. Confrontation group adalah pertemuan kelompok yang diikuti oleh seluruh residen agar dapat saling mengoreksi kekurangan atau kelebihan dari seorang residen. Pertemuan itu juga membahas permasalahan yang dihadapi oleh seorang residen lain seperti permasalahan fisik, psikis, dan sosial dan sekaligus dicari upaya pemecahannya.Hasil yang diharapkan dari confrontation group, antara lain: Residen mulai dapat menerima kondisi yang ada pada dirinya, mampu memecahkan masalahnya dan masalah residen lain, dan tumbuh sikap jujur dan tanggung jawab terhadap kelompok.

Static group lebih ditekankan pada residen dengan kasus tunggal (kecanduan napza) sehingga sasaran dari static group, yaitu dari residen untuk  residen. Isu yang dibahas dalam static group antara lain:Feeling atau perasaan hari ini, antara lain: feeling good (alasan: telah dibesuk keluarga) atau feeling bed (alasan: masih menanggung utang di luar, ingin mohon maaf kepada keluarga, masih menangguang utang bandar).Fisik hari ini, hal ini penting karena fisik sangat mempengaruhi residen dalam mengikuti program, antara lain: baik atau buruk, jika buruk akan diberikan rujukan ke dokter atau cukup perawat.Kesulitan residen dalam beradaptasi terhadap program therapeutic community.Isu di dalam panti yang dialami residen dalam mengikuti program. Misalnya: dimusuhi oleh residen lain, sering dipukuli, atau tidak diberi motivasi.Isu di luar panti yang dialami residen. Misalnya: kangen rumah atau ingin pulang.Format pertemuan bebas, tempat bebas, yang penting nyaman.

Adapun langkah-langkah kegiatan static group, sebagai berikut:Seluruh anggota static group berdoa dipimpin oleh pekerja sosial. Kemudian pekerja sosial menentukan subjek sharing, kemudian confront (menanyakan)…direction (tindak lanjut)…Pekerja sosial memberikan motivasi untuk subjek (residen), misalnya  di sini dulu nanti kamu kalau pulang ketemu teman-temanmu kamu releps lagi. Terakhir pekerja sosial merangkum hasil static group. Penutupan dan berdoa bersama.

Sedangkan aturan-aturan dalam kegiatan static group, sebagai berikut: Static group dilakukan Hari Selasa pukul 20.00-21.30 WIB, YN menjadi bagian dari permasalahan, wajib aktif baik mendengarkan maupun menanggapi masalah, tidak boleh memotong pembicaraan residen lain, dan dapat menjaga rahasia. Kegiatan static group di Panti Sosial Pamardi Putra Yogyakarta memiliki modifikasi anggota kelompok berdasarkan usia, kasus, dan fase terapi. Berdasarkan hasil observasi, 24 November 2013 terdiri dari satu kelompok anak usia sekolah menengah, satu kelompok dual diagnosis, dua kelompok fase re-entry, dan  satu kelompok bimbingan lanjut. Dari pengelompokan ini dapat diidentifikasi bahwa tujuan dengan adanya kesamaan kasus dalam satu kelompok dapat membangun kepedulian antar residen untuk saling mempengaruhi dan menyelesaikan permasalahan bersama-sama dan saling memotivasi.

Berdasarkan kasus YN selama menjalani static group secara rutin telah menunjukkan perubahan perilaku yang positif. Khusus permasalahan YN dengan keluarga yang belum bisa menerima YN kembali dapat terselesaikan melalui kegiatan static group. Usaha-usaha yang dilakaukan oleh konselor pribadi YN yang telah membuat treatment kepada ibu kandung YN dan YN telah merubah pandangan negatif YN terhadap keluarga YN dan masalah YN yang releps. Usaha konselor pribadi YN ini membuktikan bahwa dengan static group terbangun hubungan yang erat saling memotivasi dan mempengaruhi antara pekerja sosial dengan residen sehingga masalah dapat terselesaikan.

  1. PAGE (Peer Accountibility Group Evaluation) adalah pertemuan kelompok residen untuk dapat memberikan suatu penilaian, baik penilaian positif maupun penilaian negatif dalam kehidupan sehari-hari terhadap sesama residen. Diikuti oleh seluruh residen. Aturan pelaksanaan kegiatan PAGE, sebagai berikut: dilakukan dengan formasi seluruh residen duduk bersila melingkar dipimpin oleh pekerja sosial, setiap Rabupukul 20.00-21.30 WIB. YN wajib aktif mendengarkan dan menanggapi masalah, fokus dalam kegiatan forum, dan selalu melakukan kontak mata ketika menyampaikan pernyataan.

PAGE dilaksanakan selama empat kali setiap satu minggu sekali selama satu bulan sesuai dengan urutan minggu. Mekanisme PAGE: Berdoa bersama di pimpin oleh pekerja sosial, Salah satu residen mengusulkan diri untuk dinilai oleh family atau Pekerja sosial menunjuk salah satu YN atau pekerja sosial mempersilakan untuk dimulai dari residen yg ada disebelah kanan atau sebelah kiri pekerja sosial atau menunjuk residen titipan konselor (konselor pribadi residen yang ditunjuk lebih dulu menitipkan pada pekerja sosial agar residen yang bersangkutan di prioritaskan untuk di nilai perilakunya). Doa penutup. Kegiatan PAGE terdiri dari empat sesi yang dilaksanakan seminggu sekali selama satu bulan. Berikut ini urutan pelaksanaan kegiatan PAGE:

  1. Kegiatan Terapi Weekend Wrap Up adalah pertemuan yang diikuti oleh seluruh residen dan dilaksanakan satu minggu sekali, setiap Hari Minggu malam. Tujuan kegiatan ini untuk mengevaluasi perasaan dan perilaku serta perkembangan selama 1 minggu yang telah lewat. Hasil yang diharapkan dari kegiatan weekend wrap up antara lain: YN dapat mengevaluasi sendiri (self evaluation) terhadap perasaan dan  perubahan yang terjadi pada diri residen selama 1 minggu yang telah lalu, mampu melihat kelemahan residen lain,  dan peduli terhadap kehidupan family dengan saling memberikan feed back kepada residen lain serta diharapkan residen membawa isu atau permasalahan di dalam family yang diamati selama 1 minggu untuk dicarikan solusinya.

Langkah-langkah pelaksanaan kegiatan weekend wrap up, sebagai berikut: selurih residen dan pekerja sosial duduk bersila membentuk lingkaran. Pekerja sosial memimpin doa pembuka. Tangan saling bergandengan dan diletakkan pada paha masing-masing peserta weekend wrap up.YN cek perasaan selama satu minggu membicarakan personal (satu per satu) langsung diberi feed back. Urutan sesuai perintah pekerja sosial. Misalnya:Saya YN Hari Senin feeling saya good-alasan atau bad-alasan, selasa…, rabu… dan seterusnya. Hasil cek perasaan disimpulkan lebih banyak good atau bad, jika bad, maka akan ada saran dari residen lain dan pekerja sosial harus…(sesuai permasalahan). Mengembalikan tugas expeditor team dari weekend ke week day.

Aturan pelaksanaan kegiatan weekend wrap up, sebagai berikut: Kegiatan weekend wrap up dilakukan malam hari, durasi 2 sampai 3 jam kalau tidak selesai dilanjutkan oleh konselor masing-masing residen. YN aktif mendengarkan dan menyampaikan perasaan serta kehidupan selama satu minggu, tidak boleh memotong pembicaraan residen lain, harus melakuakn kontak mata saat menyampaikan pernyataan, dan dapat menjaga kerahasiaan.

  1. Terapi Orang tua residen:
    1. Family Visit merupakan program terapi keluarga yang dilakuakan oleh konselor pribadi residen melalui kegiatan berkunjung ke rumah residen.Hasil wawancara dengan konselor pribadi YN, Pelaksanaan kegiatan family visit untuk subjek YN tidak pernah dilakukan karena jangkauan domisili residen dengan panti yang jauh dan lintas provinsi. Sebab jangkauan pelayanan dari Panti Sosial Pamardi Putra Yogyakarta hanya menjangkau Daerah Istimewa Yogyakarta dan kondisi kedua orang tua subjek yang memiliki kesibukan dengan pekerjaannya. Namun pelaksanaan kegiatan family visit digantikan melalui percakapan telepon atau pesan singkat oleh konselor YN dengan keluarga YN. Namun hal ini tidak memberikan dampak maksimal pada YN karena YN kembali releps.
    2. Family Support Group adalah suatu bentuk kelompok dukungan keluarga residen melalui kegiatan pertemuan sesama orang tua residen untuk berbagi perasaan, pengalaman, dan harapan orang tua yang dilakuakn setiap tiga bulan sekali selama satu tahun anggaran di Panti Sosial Pamardi Putra Yogyakarta. Hasil wawancara dengan konselor pribadi YN,Penerapan family support group untuk Subjek penelitian ternyata juga tidak berjalan maksimal. Menurut pendapat konselor pribadi subjek yang pertama Bro Pur, ternyata orang tua subjek tidak pernah menghadiri family support group selama subjek mengikuti program terapi dan rehabilitasi. Orang tua subjek hanya datang sekali saat mengantar subjek untuk mendaftar menjadi residen di Panti Sosial Pamardi Putra Yogyakarta. Orang tua subjek juga menuturkan bahwa menitipkan subjek secara penuh kepada pengurus panti.

Menurut Bro Hary selaku konselor pribadi subjek yang menggantikan Bro Pur menyatakan, bahwa orang tua subjek hanya sekali mengiuti family support group pada Bulan Oktober selama family support group dilaksanakan sebanyak tiga kali di Panti Sosial Pamardi Putra Yogyakarta. Adapun alasan dari ibu kandung subjek karena kendala jarak Panti Sosial Pamardi Putra dengan rumah subjek yang berada di Malang dan biaya untuk perjalanan dari Malang hingga Yogyakarta. Kehadiran orang tua YN yang hanya sekali dalam forum family support group ternyata memunculkan masalah YN releps dan memunculkan kekhawatiran pada ibu kandung YN, jika YN ketika diwisuda akan releps lagi. Sesungguhnya, YN releps karena mencari perhatian pada ibunya. Hal ini timbul karena faktor pengetahuan tentang berhubungan dengan residen dan faktor dukungan keluarga yang kurang. Kemungkinan akan menjadi lain jika orang tua YN dapat mengikuti seluruh program yang diperuntukkan keluarga seperti family support group ini.

  1. Faktor Pengaruh rehabilitasi
    1. Kondisi diri YN untuk mempertahankan fase abstinance.
    2. Kondisi dan dukungan orang tua serta keluarga, kondisi keluarga yang tidak bisa mengerti dan meremehan YN untuk bisa sembuh dan produktif.
    3. Bentuk diskriminasi, yaitu black label, dugjment, atau diskriminasi oleh masyarakat.
    4. Biaya terapi dan rehabilitasi gratis karena Panti Sosial Pamardi Putra Yogyakarta milik pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta.
    5. Faktor waktu, yaituprogram  terapi dan rehabilitasi dilaksanakan selama satu tahun karena tahun anggaran dari panti dengan toleransi sesuai perkembangan YN di tahun berikutnya.

 

PEMBAHASAN

Kasus, YN yang selama satu tahun menjalani program therapeutic community pada tahap younger dan program ketrampilan serta mengalami releps. Dari data yang ada menunjukkan bahwa peran dan treatment konselor pribadi pada kegiatan static group mempengaruhi perkembangan YN selama menjalani terapi dan rehabilitasi. Langkah static group, yaitu: pembukaan kegiatan static group berdoa bersama, kegiatan inti static group antara lain sharing tentang kondisi perasaan baik yang baik maupun buruk, dan penutupan kegiatan static group. Kesimpulan pekerja sosial terhadap hasil sharing dan memberikan motivasi. Penutup.

Aturan kegiatan static group, antara lain: Ada pendampingan oleh fasilitator. Jumlah anggota dalam kelompok static groupterdiri dari 2-10 orang dan memiliki kemiripan kasus. Setiap residen wajib aktif, mendengarkan, tidak boleh memotong pembicaraan residen lain, dan dapat menjaga kerahasiaan.

Kegiatan static group di Panti Sosial Pamardi Putra Yogyakarta memiliki modifikasi anggota kelompok berdasarkan usia, kasus, dan fase terapi. Berdasarkan hasil observasi, 24 November 2013 terdiri dari satu kelompok anak usia sekolah menengah, satu kelompok dual diagnosis, dua kelompok fase re-entry, dan  satu kelompok bimbingan lanjut. Dari pengelompokan ini dapat diidentifikasi bahwa tujuan dengan adanya kesamaan kasus dalam satu kelompok dapat membangun kepedulian antar residen untuk saling mempengaruhi dan menyelesaikan permasalahan bersama-sama dan saling memotivasi seperti yang telah diungkapkan oleh Sumiati, dkk., Center for Substance Abuse Treatment dan National Institute on Drug Abuse nilai utama dari therapeutic community yaitu memulihkan pecandu napza melalui sebuah komunitas yang seragam dan tinggal bersama dengan memiliki peraturan yang telah disepakati bersama untuk saling mempengaruhi dan memotivasi kemudian terbentuk kedekatan antar residen dan pekerja sosial. Sehingga static group merupakan sub bagian dari therapeutic community yang sangat berperan dalam mewujudkan tujuan terapi.

Berdasarkan kasus YN selama menjalani static group secara rutin telah menunjukkan perubahan perilaku yang positif. Khusus permasalahan YN dengan keluarga yang belum bisa menerima YN kembali dapat terselesaikan melalui kegiatan static group. Usaha-usaha yang dilakaukan oleh konselor pribadi YN yang telah membuat treatment kepada ibu kandung YN dan YN telah merubah pandangan negatif YN terhadap keluarga YN dan masalah YN yang releps. Usaha konselor pribadi YN ini membuktikan bahwa dengan static group terbangun hubungan yang erat saling memotivasi dan mempengaruhi antara pekerja sosial dengan residen sehingga masalah dapat terselesaikan. Hubungan antara YN, orang tua, dan pekerja sosial sesuai dengan pendapat Center of Substance Abuse Treatmen (www.ncbi.nlm.gov/books/NBK64342/: 2013) tentang bentuk adaptasi therapeutic community tehadap remaja. Kegiatan static group sebagai metode untuk melatih setiap YN menjadi lebih responsif dan bertanggung jawab terhadap kesembuhan pribadi dan residen lain. Peran pekerja sosial dalam kegiatan static group bertindak sebagai konselor, supervisi, dan evaluator antara residen dengan keluarga atau sistem program terapi.

Perdamaian YN ditentukan oleh treatment konselo YN sebab pelaksanaan kegiatan family visit dan family support group untuk subjek YN tidak pernah dilakukan karena jangkauan domisili residen dengan panti yang jauh dan lintas propinsi. Sebab jangkauan pelayanan dari Panti Sosial Pamardi Putra Yogyakarta hanya menjangkau Daerah Istimewa Yogyakarta dan kondisi kedua orang tua subjek yang memiliki kesibukan dengan pekerjaannya. Namun pelaksanaan kegiatan family visit digantikan melalui percakapan telepon atau pesan singkat oleh konselor YN dengan keluarga YN. Namun hal ini tidak memberikan dampak maksimal pada YN karena YN kembali releps. Dampak yang tidak maksimal dipengaruhi karena konselor pribadi YN tidak dapat mengidentifikasi kondisi keluarga dan lingkungan di daerah asal residen secara langsung. Sehingga tidak dapat memetakan masalah dalam keluarga atau lingkungan dan memetakan kebutuhan yang harus disiapkan untuk menyelesaikan  masalah yang ada pada YN saat berada di rumah.

Kasus YN, yang memiliki masalah tentang penerimaan keluarga terhadap YN ketika kembali di rumah menunjukkan bahwa keluarga kurang memiliki pemahaman tentang pecandu dan cara memperlakukan serta berinteraksi mantan pecandu. Menurut penulis jika seluruh program terapi terhadap keluarga YN dapat berjalan dengan maksimal di Panti Sosial Pamardi Putra Yogyakarta pelayanan terapi dan rehabilitasi sosial terpadu dapat berjalan dengan maksimal mencapai tujuan pemulihan residen. Sebab Tujuan dari kegiatan terapi terhadap keluarga atau orang tua residen antara lain ketika residen dinyatakan mendapatkan hak kembali ke rumah walau masih dalam kondisi menjalankan terapi di panti sepenuhnya residen merupakan tanggung jawab keluarga residen. Untuk itu orang tua dan keluarga mendapat arahan untuk mengentaskan masalah-masalah yang mungkin muncul saat pecandu berproses untuk pulih dan kembali sehat melalui seminar drug addiction (Media Informasi & Komunikasi Badan Narkotika Nasiona: No.06. Tahun III/2005, hal 6). Untuk kasus YN, karena keterlibatan orang tua dan keluarga dalam memberikan dukungan rehabilitasi sangat minimal mendorong YN untuk releps karena orang tua tidak memahami cara yang sesuai untuk menanggulangi releps dan mengenali karakteristik residen sebagai pecandu napza.

Menurut National Istitute on Drug Abuse(www.drugabuse.gov: 2013), bahwa keberhasilan sebuah terapi ditentukan oleh diri residen sendiri, kelompok terapi, pekerja sosial, dan orang tua. Sehingga dapat dikelompokkan menjadi dua faktor pengaruh dalam kasus YN, yaitu:Faktor pendukung dan penghambat terapi dan rehabilitasi. Faktor pendukung terapi dan rehabilitasi meliputi: peranan pekerja sosial, perilaku disiplin YN dalam mengikuti program terapi, kesediaan YN untuk mengikuti arahan dan treatment konselor pribadi, dan program terpai residen yang lengkap diikuti oleh YN. Faktor penghambat terapi dan rehabilitasi meliputi:kegiatan terapi yang tidak dijalankan oleh keluarga resdien secara maksimal dan orang tua belum dapat menerima kembali YN.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Peran dan treatment konselor pribadi pada kegiatan static group mempengaruhi perkembangan YN selama menjalani terapi dan rehabilitasi. YN dapat berdamai dengan orang tua dan lulus dari proses terapi dan rehabilitasi.

 

Saran

Orang tua atau keluarga residen memiliki pengaruh terhadap keberhasilan terapi dan rehabilitasi terhadap residen, oleh karena itu sekiranya orang tua mengikuti arahan dari pekerja sosial dan rutin mengikuti kegiatan terapi khusus orang tua.

DAFTAR PUSTAKA

Center for Substance Abuse Treatment. (1999). Treatment of Adolescents with Substance Use Disorders – NCBI Bookshelf.htm. (Diakses dari www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK64342/ pada Hari Jumat, 23 Agustus 2013 Jam 12.18 WIB).

Enny Nuryani, dkk. (2004). Metode Therapeutic Community (Komunitas Terapeutik) dalam rehabilitasi Sosial Penyalahguna Napza. Jakarta: Direktorat Jendral Pelayanan Rehabilitasi Sosial Departemen Sosial RI.

Slavin, R.E., (2007). Educational Psychology: Theory and Practice.  edition.United States of America.

Sumiati, dkk. (2009). Asuhan Keperawatan pada Klien Penyalahguna & Ketergantungan Napza. Jakarta Timur: CV.Trans Info Media.

www.drugabuse.gov. (2013). Therapeutic Community. (Diakses dari http://www.drugabuse.gov/sites/default/files/rrtherapeutic.pdf pada Hari Kamis, 2 Mei 2013 Jam 19.40 WIB).


 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s