Selamat pagi, Sayang.

Semoga kamu baik2 saja. Aamiin. Bukannya aku tak mau belajar dari yang kamu sebut “kesalahan”. Bukan aku tak bisa mengalahkan “keegoisan” ketika kamu bilang semua tidak harus sekarang. Dan bukan aku tak “bersabar” ketika kamu akan mengabulkannya lain kesempatan.

Aku yang tak mudah menyimpan ekspresiku, yang tak pandai menjaga perasaanmu, dan yang kasar dalam ucapku, hingga kamu sering mengalah untukku. Bukan tak mau belajar dan memilih stag yang kamu bilang “monoton.”

Bicaralah padaku sebuah alasan kenapa aku tak boleh ini itu di AWAL, seperti yang sering kamu ajarkan padaku. “Kita mau kemana?” dan kamu menanti paparanku.

Tapi, Sayang. Kadang sebuah kebutuhan itu datang bersamaan, saat aku benar-benar membutuhkanmu dan kamu sudah ada “kontrak” dengan teman-temanmu kadang menjadi pelik bagiku.

Insha Allah kalau kamu menjelaskan, “Tidak usah ikut ya, aku sudah janji memboncengkan temanku Si B, karena motornya rusak. Perjalanannya juga jauh. nanti kamu capek dan kamu kan mau belajar bersama Mas Bayu.”

Aku bisa menahan keinginanku.
Aku tidak ingin menuntutmu yang macam-macam kesepakatan di awal masih kuingat lekat2. Dan aku selalu menahan mulutku untuk TIDAK MENGAKUMULASIKAN MASA LALU. Aku harap kamu juga begitu.

Aku yang terus BERPROSES untuk DIRIKU dan HARAPANMU. Tidak ingin menjadi diri sendiri karena belum tentu baik dan memilih untuk menjadi pribadi yang baik. Jaga kesehatan, ya. jangan sampai telat makan.

Advertisements