Aku menyebutnya lelaki milenium. Sekarang hidupnya telah mencapai tahun ke 35. Wajahnya seperti lelaki seumuran 29 tahun. Paling suka berkata konyol dan tak pernah absen mengundang gelak tawa. Dia rajin mengingatkanku menenggak minuman berion meskin hanya 600ml perhari. “Aku kan sayang kamu, sa,” ucapnya suatu hari ketika aktivitasku memadat.
“Karena kamu akan menuliskan ceritaku,” lanjutnya penuh harap.

Lelaki milenium itu sejak umur 1 tahun 3 bulan selalu mengunyah permen-permen khusus dari dokter hingga akhirnya permen itu menjadi racun bagi tubuhnya. Tahun ke 10 perjalanan hidupnya, dokter yang berusaha mempertahankan hidupnya justru menyampaikan kabar yang pernah mereka prediksi, “Gagal Ginjal.”

Berbagai terapi medis dia jalani. Cuci darah, yang menurutnya sebuah penyiksaan hingga akhirnya sekarang dia memiilh CAPD (Continuous Ambulatory Paritoneal Dialysis), bahasa sederhananya adalah mengeluarkan cairan dialisis yang disimpan di dalam rongga peritoneal pada jangka waktu tertentu kemudian menggantinya dengan cairan baru.

Aku pernah mengintipnya ketika melakukan CAPD. Dia mengawali CAPD dengan mencuci tangan kemudian menyiapkan pelaratan yang dia perlukan. Lelaki milenium itu berkulit sawo matang. Perlahan dia singkap bajunya ke atas, ada perban dan selang (kateter) yang keluar dari perut tipisnya. kemudian ujung selang yang sepertinya berjarum itu ia tancapkan pada kantung cairan semacam infuse tapi berukuran 2x lipatnya. kantung yang berisi cairan itu dia gantungpan pada tempat yang lebih tinggi dan kantung yang kosong ia letakkan di bawah. Kedua kantong itu terhubung selang dan menyatu melalui ujung selang yang di luar perutnya.

“Don, kamu tadi pipis, ya?” tanyaku usai dia membereskan alat-alat yang asing bagiku.

“Itu namanya CAPD,” jawabnya sambil menurunkan kacamata yang selelu bertengger di hidungnya. gagangnya berwarna merah.

“Katamu, kamu masih bisa ereksi,” aku pun penasaran.

“Tapi aku gak bisa pipis sambil ngerasaain geli kaya kamu.” kemudian dia melanjutkan aktivitas di depanm komputernya.

“Gak bakal najis donk,” sahutku polos.

tunggu cerita selanjutnya, ya….

Advertisements