Selamat siang, kekasihku. Ternyata kita sudah menapaki purnama ke sembilan. Banyak yang sudah aku dapatkan dan aku pelajari dari karaktermu.

Aku telah mengambil banyak risiko dalam hubungan ini termasuk yang sudah aku pelajari saat kita masih menjadi teman. Tapi bukan aku, lari dari sebuah risiko. Meski kesakitan, meski menangis semalaman, atau harus lari malam-malam.

bukan salahmu, karena kamu pernah berpesan, “di depan nanti kamu pasti kecewa denganku,” begitu kamu mewanti-wantiku untuk bisa selangkah mengendur. Pun, “kamu akan susah meninggalkanku.”

Suatu saat jika memang kamu tak bisa melihat ketulusanku, aku akan lebih kencang berlari bukan untuk mundur tapi maju untuk meninggalkanmu. Mari kita buktikan.

Kesakitan-kesakitan yang berkoloni dan meminta perhatian kemarin cukup memberiku pelajaran. Betapa dirimu tak perduli lagi pada perasaanku meski kamu sering bilang padaku. “Mereka tak perlu kau hiraukan,” begitu selalu kamu meiyakinkanku.

baik lah, untuk saat ini aku bisa menyembuhkan semua karna kamu bilang, “bahagia itu kita yang menciptakan,” tapi apakah kamu tidak pernah berpikir jika kebahagiaan itu juga dapat muncul dan tenggelam karena orang sekitar? karna kita tidak bisa hidup sendirian. Mungkin maksudmu adalah untuk egois. lain hal.

Ah, itu hanya penilaianku ketika aku marah padamu.

Mari kita buka dengan kepala dingin, bahwa akar masalahnya adalah pada diriku sendiri. Mengambil banyak risiko dan berharap banyak kamu akan memperhatikanku ketika aku sempoyongan membawa dan menyelesaikannya. tapi ternyata nihil. Pernah sekali aku marah padamu. Menuduhmu bahwa aku adalah pacar figuranmu. Itu rasaku hampir sebulan benar-benar aku merasakan jijik padamu.

inginku marah dan mengatakan pada dunia, aku mengendap. untuk apa? pikirku ulang. Semoga cukup aku yang menjadi perasa. dan perempuan selanjutnya bisa lebih tegar dan memang kamu membalas setimpal perasaannya.

Advertisements