“Aku Gila,” begitu teriakku dalam hati. Hanya air mata yang sanggup keluar dengan deras.

Hari minggu kemarin, seharian suntuk dadaku sesak, pikiran pun penat. Tengah hari, Pembaringan jadi tempat aku mengadu, aku terlelap diiringi isakku.

Senja membangunkanku dari pintu kamar yang memang berada di lantai dua. Kepalaku kliyengan, jantungku berdegup tak karuan, napas mulai tersengal. “Aku harus mencari udara segar,” sambil ku kemasi ransel dan netbook.

“Tapi, aku harus kemana? yang aman dan nyaman,” Aku menghubungi temanku ternyata dia tengah sibuk dengan laporan penelitian soal kretek.

“Aku butuh akses internet untuk mengerjakan laporan bulanan ini. Yah, Joglo. Udara pasti bersih, akses internet pun lancar,” Segera saja aku menuruni anak tangga dan mengeluarkan motorku dari garasi kemudian menuju Joglo Abang. Aku butuh waktu sekitar 10 menit dari kostku di kricak kidul untuk sampai di Joglo abang yang letaknya di Gombang, Tirtoadi. Sudah kutarik gas sekencang mungkin tapi rasanya tetep saja lama.

Aku masih terngiang dengan sebuah makian pagi tadi. Air mata pun jebol. Jilbabku basah. Lebay sekali. Tapi memang begitu. Seingatku, terakhir menangis sebulan yang lalu tepat sehari sebelum ulang tahunku. Masalah dengan orang yang sama.

Ternyata, Joglo bukan pilihan tepat. Air mataku terus saja mengucur tanpa henti. Pekerjaan setengah jadi. Aku memutuskan untuk kembali ke kost. Napas pun menjadi berat.

Tidak cukup malam itu.

Senin pun memaksa menyapaku. Rutinitas kantor mau tak mau harus kusetubuhi. Tapi hatiku tetap saja gundah, tetap saja sakit. Aku memutuskan untuk menyendiri dan berusaha menghabiskan sisa air mata. Belum juga sampai di ruang yang aman, dasar air mata seperti air terjun yang deras. Aku tak kuasa menahan isak. Aku harus profesional. Begitu pikirku.

Rutinitas kantor berakhir seperti biasa, jam 4 sore. Aku pun pulang. Taukah? aku jalan kebablasan. Rute pulang pun berubah. Aku galau memilih jalanan, namun pada akhirnya aku sampai juga di kost. Baru saja sampai di kost. Kurebahkan tubuhku, ku lepas jilbab dan ikatan rambutku. Aku nangis lagi.

Akhirnya aku memutuskan untuk pergi. Oh, iya aku punya boots baru. Sudah ku beli Jumat lalu dari honor sebuah kesibukan 3 hari. Rencananya boots itu hendak kugunakan untuk touring. Tapi karena suatu hal aku harus batal mengikuti itu. 6 bulan aku menahan diri untuk tidak melakukan itu tapi sekarang gagal lagi. Tak apalah, ya.

Aku menghubungi teman sekantorku para perempuan muda yang memiliki hobi sama denganku. Kami kencan bertiga. Di sana di lantai teratas sebuah gedung pusat penjualan elektronik di kota Jogja, kami melampiaskan motif masing-masing. Seperti yang kebanyakan kita ketahui, Karaoke itu 1% hobi dan 99% curhat.

Bagiku, tempat ini memiliki cerita tersendiri. Ruang 12 di lantai ini, 10 bulan yang lalu aku menempatinya sebagai penanda sebuah pertemuan. Tapi sayang bukan ruang itu yang harus aku tempati. Aku harus menyusur 3 ruang lagi, ruang 15. Jam 8.45 malam, aku memasukinya, sendiri, teman-temanku belum datang. Mereka terjebak hujan.

Aku termangu sebentar. Kemudian memilih lagu. Cinta terbaik. Lagu yang pernah ku nyanyikan 10 bulan yang lalu di ruang 12. Mendadak suaraku jadi bagus, yaiyalah aku doang yang nyanyi gak ada yang komentar. Sebuah kegilaan selama dua jam. Semua yang kurasakan ku lampiaskan lewat lagu, sampai-sampai suaraku serak. Jam 10 malam acara gila ini berakhir.

Aku melanjutkan kegilaan ini. Aku memaksa lelakiku untuk mengendarai motor king-nya. Dia pun mengingatkanku kalau malam ini hujan. Dia khawatir kalau aku akan jatuh sakit. Tapi aku tetap meyakinkannya. Aku tidak apa-apa. Ayo kita berangkat.

Dikontrakannya tidak ada Si Bule Malang yang biasa terlentang di depan tv.

“Loh, Si Bule kemana, Pah?” tanyaku penasaran.

“Sudah pulang kemarin,” jawab lelakiku sambil mengeluarkan kingnya.

“Bagus,” jawabku kegirangan.

“Kok malah bagus?” dia heran.

“Ya, gegara dia aku sudah beli boots baru dan gagal aku pake untuk touring bersamamu kemarin. Sekarang kita touring berdua,” Paksaku.

Sepanjang perjalanan aku navigatornya. Sesuka hatiku harus belok ke mana. Tujuan Awal aku ingin ke Kaliurang. Ya, setidaknya sepadanlah ya dengan rute touring kemarin. Namun cuaca tak mendukung niatku. Sampai di Jakal km 5 ujan turun sedikit deras. Kami terpaksa berteduh di sebuah toko 24 jam. 5 menit kami menunggu reda kemudian melanjutkan hingga jakal km 8 dan kembali berteduh. Sekitar 15 menit kami menunggu hujan reda.

Aku tidak bisa egois, dia bisa sakit kalau aku paksa untuk mengantarku sampai kaliurang. “Tadi, naik mobil aja pasti dah nyampe,” protesnya.

“Sudah sering aku naik mobilmu,” jawabku sedikit kecewa.

“Ya, tapi kan liat kondisi,” ucapnya menenangkanku.

“Berapa kali kamu touring?” tanyaku sambil menempelkan tubuhku pada bahunya yang sejajar dengan bahuku karena dia duduk di atas motor sedangkan aku berdiri.

“Selama itu juga aku menahan untuk tidak naik motormu ini. Aku sudah beli boots dan tidak ingin mubadzir,” protesku.

“Kan, jauh, nanti kamu hanya kecapaian. Toh tahun baru kemarin kamu juga aku boncengkan dengan motor ini,” suaranya mulai meninggi.

“Dari kontrakan sampai km 0? Mana ada sensasinya?” Aku pun tak mau kalah meninggikan suaraku.

Kemudian hanya rintik hujan dan suara knalpot kendaraan yang memenuhi malam ini. Gelapnya depan toko yang sudah tutup dan dua gundukan pasir mengapit kami menambah dinginnya suasana.

Hujan mulai reda. “Lalu kita mau kemana?” tanyanya.

“Kita pulang saja, aku gak mau kamu sakit karena malam ini,” ujarku. Kami bersemuka. Setidaknya kamu sudah menurutiku.

“Kita ke tugu ya,” pintaku kemudian menaiki jok bagian belakang,” Nguooook… ku rapatkan tubuhku dengan punggungnya, kukencangkan peganganku yang melingkar di perutnya. Wow ini sensasinya. Hahaha Aku menjerit kegirangan, namun dalam hati. Takut dibilang ndeso.

Jakal Km 8, jalan lurus hingga terban kemudian belok ke kanan menuju tugu. Lampu appil di tugu kebutulan hijau. “Pah, puterin tugu,” pintaku. tanganku menunjukkan arah untuk memutar. Padahal aturannya tidak perlu mengitari tugu kalau untuk benyebrang ke kanan.

“Ealah, nduk…” ucapnya dan menuruti saja komando tanganku. Dia memutar motornya dan menuju arah stasiun tugu. Sengaja dia pilih jalan yang tidak rata, seperti 10 bulan yang lalu. Kala itu kami menaiki sekuter yang beda tapi sama-sama dalam posisi membonceng. Dia mengendarai dengan pelan dan merasakan setiap gundukan aspal kecil di sepanjang jalan mangkubumi. Begitu seterusnya sampai di lampu appil jalan mataram.

“Pah, lewat KM 0 ya,” dia pun menuruti saja.

“Kita pernah duduk di situ, waktu itu kita naik sekuter,” kenangku sambil menunjuk bangku cor yang berbentuk lingkaran di depan hotel Ina Garuda. Dia masih mengendarai dengan pelan hingga KM 0. Kami berhenti karena lampu Appil merah. Aku menoleh ke kanan. Dan kita pernah duduk berdua dibangku yang itu. Bangku taman yang berbentuk lingkaran dan di tengahnya ada pohon. Kenangku dalam hati.

“Pah, masuk alun-alun, ya.” pintaku lagi.

kali ini dia menjawab, “Becek, ndut.”

“Ah, tidak apa-apa, yang penting kita masuk,” Kami memasuki area alun-alun utara jogja melalui pintu parkir sebelah barat. Belum juga sampai di tengah aku sudah memintanya untuk berputar balik.

“Kita ke alun-alun kidul, ya.” Kami mengambil jalan dari alun-alun utara ke arah pasar ngasem kemudian tembus di kandang gajah. Dia hendak memarkirkan motornya.

“Jalan, aja pah, kan becek, kita ke plengkung gading ya,”pintaku.

Dia memarkir motornya di depan lampu yang tiap 10 detik berubah warna di area parkir plengkung gading alun-alun kidul. Kami menyempatkan berpoto. Kemudian melangkah menuju atap paling tinggi di plengkung gading.

10505063_10203650949414182_4195692185914720620_o

“Pah, inget gak setahun lalu di sini, kamu bawain ranselku,” ucapku sambil meletakkan ransel yang sama dengan yang aku ucapkan.

“Sudah setahun, po” protesnya sambil berbalik arah.

“Eh aku sudah setahun sarjana, ya.. em salah sepuluh bulan ding,” ralatku.

“Gak hanya ransel, sepatumu juga,” imbuhnya.

10157253_10202006435862371_1492353852370269460_n

Dia duduk di lengkungan. Aku pun menyusul. “Ayo, kita poto lagi, dulu poto kita blur waktu di sini.” ucapku kemudian menemukan senyumnya yang berkembang.

“Terima kasih, ya, Pah.” ucapku sambil nyengir.

“Untuk apa?” jawabnya datar.

“Udah selo malam ini, muterin tugu, hujan-hujanan, dan kedinginan.” cerocosku.

Advertisements