Minggu, 18 Januari 2015

Dua puluh enam tahun yang lalu, aku dilahirkan sebagai anak urutan pertama di suatu keluarga sederhana. Tak banyak yang aku tahu soal masa kecilku, kecuali yang diceritakan oleh Mama, Papa, Kakek, Nenek, Om, atau Tante kepadaku.

Cucu pertama baik di keluarga mama maupun papa sekaligus menjadi cucu perempuan pertama, aku selalu digadang-gadang untuk bisa menjadi kebanggaan. Orang tuaku selalu memanjatkan doa dan harapan padaku ketika kami bersemuka.

Suatu sore saat aku masih duduk di sekolah dasar, “Dik, sekolah yang pintar, ya, kamu itu anak kebanggaan papa, kamu juga contoh dari adik-adikmu, nanti kamu juga yang akan menggantikan posisi papa,” ucap papaku sembari mengendarai mobil.

Lain hal dengan mamaku, perempuan yang kini sudah mulai menemui senja tidak pernah meminta apa pun kecuali untuk tidak meninggalkan Tuhanku. Dia tidak pernah menegurku secara langsung, lebih sennag dengan nada sindiran, “Aku tidak pernah mengajari anak-anakku untuk tidak sholat,” itu selalu terlontar ketika aku bermalas-malasan menunaikan ibadah.

Aku tidak hanya punya mama dan papa, tapi aku juga punya bapak dan ibu. Bapakku adalah adik dari papaku. Bapakku tidak punya keturunan setelah menikah selama 20 tahun dengan ibuku. Kemudian aku dianggap sebagai anak mereka. Satu harapan dari bapakku adalah menikahkanku. Suatu sore yang cerah, ketika umurku sudah genap 20 tahun, “Besok kamu menikah umur 24 saja, sudah cukupan itu,” ucapnya sambil menyeruput teh buatan ibu.

Belum satu pun dari ketiga harapan itu aku wujudkan 🙂

Hari ini, Kepada Tuhan Sang Sutradara Hidupku, terima kasih atas bingkisan-bingkisan istimewa yang Kau berikan padaku melalui makhluk-makhluk istimewaMu. Lewat mereka Kau persiapkan aku untuk bisa mewujudkan harapan-harapan orang tuaku. Doa-doa mereka terus mengalir dari dini hari kemarin, doa-doa yang luar biasa menurutku, doa yang ikhlas mereka panjatkan untukku.

Darinya kekasihku, R Prasetyo Diwiryo , yang Kau pinjamkan saat ini, memohonkan padaMu agar aku tambah dewasa dan bisa berkurang cugetanku. hahaha. Terima kasih tuhan, kau pinjamkan dia dengan penuh kesabarannya.

Dari teman-temanku:Heri Mtx,Nabil Algibran,Raditya AN Jati,Sofi Sulistyo,Ardy Jendral Lapangan Tengah,Spectrum Supriantho,Yulia Fitriyani Sutadi,Suntoro Dani Grunge,Joni Yulianto,De Kris,Sapto Nugroho, Edo Caniago,Brita Putri Utami, Wanti Aja,Oni Agung Kurnia,Nur Neneng Widya,Andi Pupung,M Rida Restanti,Indah Laksita,De’tri Murni,Fajar Nurendah Kurniasari,Ngudi Prasetiyo,Sri Lestari,Lisa Febriyanti,Jarwadi Mj,Niyya Fani,D Sekar Kencono,Wahyu Tri Arto,Saktya Rini Hastuti, Ngudi Prasetiyo, tim: Laskar Inklusi dan Festival Film Disabilitas.

Tuhan, meraka memohonkan untukku: sehat, bahagia, panjang umur, sukses dalam karir dan hidup, cepet nikah, banyak anak, selalu dalam lindunganMu, usia, rejeki, ilmu dan klrgaku makin barokah. Tetap merdeka dlm berpikir dan bertindak. Dan segala doa yang lainnya serta tak pernah ku pinta dari mereka itu kumohonkan kepadaMu Pemilik Semesta, kabulkanlah untukku dan mereka. Aamiin

Tolong kabulkan Ya, Allah. Soalnya aku tidak bisa memberikan traktir makan-minum untuk mereka, jadi aku traktir doa saja kepadaMu karena Kamu lebih mengerti apa yang terbaik untuk mereka. 🙂

Mau jadi apapun kalian dalam hidupku, kalian telah mempunyai porsi sendiri dalam hatiku. Terima kasih atas kebersamaan dan pelajaran yang kalian berikan padaku.

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements