Sahabat kata, pernahkan kalian punya cerita lucu dan menggemaskan? Nah kali ini aku akan berbagi cerita soalku.

Berikut ceritanya, Desember 2014 persiapan Temu inklusi:

Sms dari penyewaan panggung: Mas, besok panggungnya dipasang kapan?
aku menelpon, ” Halo, Om Dar,” sapaku.
“Ya, halo,” jawab diujung telepon.
“Om, ini elzha tolong besok panggung loading hari kamis ya.” ucapku menjawab sms.
“Loh, ini mbak toh saya kira mas, maaf ya mbak,” sesal Om Dar.
“Oh, tidak apa-apa sudah biasa saya di panggil mas, ketemu saja saya juga dipanggil mas itu sering kok. hahahaha, ya sudah om, begitu saja gih, nuwun,” jawabku sekaligus mengakhiri percakapan kami.
“Njih, mbak ngapunten njih,” ucapan terakhir Om Dar.
:/ sejak kapan nama elzha itu jadi nama lelaki????

Cerita di jalanan:
Jaket besar, masker, sepatu kets, celana jeans, helm, dan ransel selalu melekat pada tubuhku ketika aku mengendarai si jeruk, motor scorpio warna orange milik bapakku. Tidak hanya di lampu merah beberapa orang memperhatikanku dan tidak jarang mereka saling bergunjing menerka-nerka apakah aku lelaki atau perempuan. Tidak jarang pula cewek-cewek berboncengan dan mendekat parkir di sampingku saat lampu appil menyala merah kemudian saling berbisik cowok keren (hanya ada aku dan mereka) tanpa basa-basi aku membuka kaca helm ku nah, nampaklah make up ku kemudian mereka berucap “wo, cewek,” dengan raut muka kecewa. Setiap parkir di mana pun tukang parkir selalu berucap, “maju mas mepet.”
Kalau begini, aku hanya menuruti tukang parkir dan cukup menjawab dengan membuka helm, kemudian mereka berucap “woh, cewek, la motor e gede tenan.” Aku sering menggeser jerukku untuk merapikan parkiranku kemudian tukang parkir berucap, “halah malah ngrepoti awak e dewe, mas, tinggal wae.”
kali ini aku menjawab, “mbak, om, bukan mas, aku bantu merapikan, lho, kok malah protes, motorku ini gede tahu diri aku :/” cerocosku.

Ucapan paling berkesan adalah malam ini ketika aku masuk ke areal PKL, si tukang parkir berucap “seribu mawon, mbak,” kemudian tersenyum dan meneruskan ucapannya, “saya kira tadi cowok.”
aku memberikan uang recehku ternyata tidak genap seribu, kemudian aku berikan uang dua puluh ribu.
Si tukang parkir berkata,”nanti saja mbak, atau besok-besok gak apa-apa, santai saja,” ucapnya sambil tersenyum.
(woh, malah ra tak bayar wae :v) “oh, iya pak, mari,” ku tarik gasku menuju madre angkringan tuli yang berada di paling ujung utara PKL kolam susu, Nologaten.

Beberapa pengalaman di atas memang sering terjadi hampir setiap hari.  Kadang aku berpikir, apakah nama elzha itu tidak bisa memberikan ciri sebagai perempuan? apakah pakaianku dan tubuhku ini tidak mengisyaratkan perempuan? Parahnya lagi teman-teman komunitasku khususnya para lelaki menyebutku wallpapper atau perempuan hanya cashingnya saja isinya tetep lelaki. Apakah penyebutan perempuan chasing itu memang tervisualkan. Duh, ya masa aku harus berubah jadi power ranger pink dulu biar selalu dipanggil mbak.

Advertisements