Aku jadi cah selo. Gegara liat status fesbuknya mbak Sofi liat “ndog abang” gelap mataku. Aku harus ke sekaten, hem. Aku mulai tanya sana sini kapan sekaten tutup lapak setahuku hari ini sudah ada grebeg sekaten itu artinya sekaten hampir tamat tahun ini.

Asa sebulan lalu memenuhi otakku, seperti singa yang terusik tidurnya. Yah sebulan yang lalu aku ingin sekali datang ke sekaten hanya untuk satu wahana saja. Gegara kecapaian dan harus mampir ke IGD RSA UGM kemudian ketemu dokter Ndut rencana piknik sederhana ke sekaten harus di pending. Setelah sehat harus mengurus acara Temu Inklusi di kantor. Meski angan-anagn kesekaten masih mengiang, aku menahan.

Ping, ping, ping, penanda pesan masuk BBM riuh. Beberapa sahabat membalas PM ku yang ku tulis “Sekaten bubar kapan, ya. Masa mau naik ombak asmara saja nunggu setahun lagi, ya kalau sampai.”

@Desinta arliani: Besok kukutan
@Nissya: sekaten tinggal hari ini dan besok mbaa… 😀

Waduh, kudu kesekaten bisa gak bisa. Jam di Hp ku menunjukkan pukul 17.17 aku putuskan untuk berkemas kemudian mandi. 17.30 Aku berangkat menuju alun-alun utara. Di otakku hanya ada kata “pokok e.” Dari jalan Suryadiningratan aku berangkat.

Sore tadi langit alun-alun selatan cukup gelap. Pun di alun-alun utara. Si jeruk, motor scorpio aku parkir di pintu masuk bagian utara alun-alun utara. Tukang parkir bilang “jangan di kunci stang ya mbak,” kemudian menyodorkan karcis parkir. 5000 rupiah untuk si tukang parkir. Seperti tahun lalu aku menuju wahana ombak asmara yang di ujung barat.

Sahabat kata, Ombak asamara sebutan lainnya ombak banyu adalah wahana permainan berbentuk lingkaran yang berporos dengan atau tanpa penutup seperti bentuk kerucut menggantung. Para penumpang ombak asmara duduk di papan sehingga membentuk keseimbangan. Pada tiang poros yang sekaligus penyangga wahana ini bersusun 10 speaker aktif dan satu mixer ukuran kecil. Lagu yang di putar bernuansa remix pokoknya asik. hahaha. Sekitar 8 pemuda bertugas menggerakkan wahana menyerupai pergerakan ombak.

Mataku menyusur jalan yang ku tapaki. Jajaran pedagang tak mampu menggodaku. Sampai juga di depan loket ombak asmara. Oh, tiket perorang sudah naik menjadi 8000, bukan masalah. Woh, kosong tak ada yang naik. hahahaha. Aku menitipkan ransel ungu kesayanganku. Langsung saja aku naik di papan duduk wahana itu.

Cukup lama dari jam 18.00-19.20 aku menunggu wahana ini di putar, gelisah menyergapku. Ba’da maghrib aku harus kembali ke Joglo Abang, Community Training Centre untuk rapat persiapan Festival Film Disabilitas yang ke dua. Duh, dolan yang tidak asik lagi. Tapi tak mengapa daripada aku harus menunggu tahun depan untuk melampiaskan hasratku ini. Tapi besok aku akan datang lagi ke sekaten. Kata pemuda pengayun wahana ombak asamara tadi sih masih sampai minggu. Mudah-mudahan besok malam cerah aku ingin mencoba kora-kora dan ombak asmara yang di sisi timur karena durasinya lebih lama.

Advertisements