Hujan sore ini tidak begitu lebat namun cukup memberikan hawa dingin pada tubuhku. Aku duduk di sebuah tempat yang ramai namun baru kali ini aku kunjungi. Aku dan teman perempuanku mengambil duduk di sudut tempat ini. Sudah lama rasanya kami tidak seintim ini. Biasanya hampir setiap sore kami meluangkan waktu untuk sekedar saling berpendapat hal-hal sepele. Topik pembicaraan kami sore ini soal “iming-iming perempuan” kalau teman perempuanku bilang Perempuan sebagai komoditi.

Awalnya, Hari Minggu lalu sepulang berenang aku dan teman perempuanku yang hobi berenang memutuskan¬† untuk main bilyard. Pool bilyard yg kami kunjungi tidak jauh dari kolam renang. Sekitar 10 menit kami tiba di pool bilyard, kami masuk dan menuju ke kasir. Aku memesan satu meja untuk kami, ” Mbak donk.”

Kasir yang cantik itu menjawab, “di atas atau bawah mbak?”

“Bawah saja,” karena biasanya aku bermain di lantai bawah (lantai satu).

“Kita ada free ladies, lho mbak, di lantai dua, sampai nanti jam 22.00, tidak nyoba yang di atas saja?” bujuk kasir.

Wah lumayan juga, gratis 4 jam, “Oh, nomor berapa yang kosong di atas?” tanyaku.

“Nanti konfirmasi langsung pada kasir di atas ya, mbak,” sarannya.

Pembicaraan ini soal kegelisahanku soal frasa berikut “Free ladies.”

“Terima Kasih,” jawabku kemudian naik ke lantai dua. Seperti saran kasir yang di bawah, kemudian aku memesan free ladies pada kasir di lantai atas dan aku mendapat meja no 17. Kami langsung saja bermain. Jam 18.30 aku dan teman perempuanku bergantian meninggalkan meja untuk sholat maghrib.

Aku sholat dilantai 3. Tepat saat aku mlepas mukena bagian atas. Aku teringat kata “free ladies” di tempat hiburan lain. Diskotek. Ada hari-hari tertentu di diskotek yang memberikan layanan free ladies. Sejenak otakku teringat “penjajahan mental.” Aku berpikir jam free ladies ini jam-jam produktif dan jam belajar menurutku. Hari minggu bagi sebagian penduduk jogja adalah hari persiapan untuk sekolah maupun bekerja tapi ini justru untuk bersenang-senang. Ya,,, walaupun kadang time out dari rutinitas itu perlu tapi kalau menjadi kebiasaan itu jadi masalah. Tapi tergantung individunya. Ok, Pikiran itu aku tahan begitu saja. Aku kembali ke meja. aku bermain sampai jam 9kemudian pulang.

Hari Kamis, aku kembali ke pool itu lagi karena aku penasaran dengan free ladies Hari Minggu. Aku penasaran dengan jumlah pengunjung pada hari kerja pada jam yang sama. Usai maghrib. Aku kaget, aku dapatkan free ladies lagi. ketika aku konformasi ke Kasir, Kasir hanya menjawab ” Kalau Kamis dan Minggu kami ada free ladies mbak,” hem,, kenapa sikapnya agak kebingungan dengan pertanyaanku? jangan-jangan free ledies ini setiap hari. Aku bermain 3 jam. Meja penuh pada jam 9. Aku bermain sendiri hari itu. Seperti Hari Minggu sekitar 3 meja digunakan oleh perempuan.

Pemain di lantai dua ini kebanyakan mahasiswa dan eksekutif muda. Beberapa pemain datang dengan menggunakan kemeja yang rapi atau seragam perusahaan. Jika mahasiswa nampak dari perbincangan yang kadang terdengar ketika aku bersebelahan saat mencari posisi untuk menyodok. Beberapa pemain pulang tidak lebih dari jam 9. Postur tubuh dan wajahnya sepertinya pelajar. tapi tampang memang kadang menipu. Biasanya aku melihat dari karakter suara. karena suara remaja dengan dewasa itu berbeda. Yah, ketika kadang kami mengambil antri untuk melakukan sodokan.

Berbicara soal diskotek, dua hari lalu aku mendapat kabar bahwa salah satu anak dari orang yang aku kenal (perempuan) SMA berkunjung ke diskotek dengan teman-temannya tanpa sepengetahuan orang tuanya. Tetangga kami yang memergoki anak perempuan itu. Hari kunjungnya merupakan hari sekolah tentunya malam. Harusnya malam itu ia di rumah istirahat atau mengerjakan PR.

Contoh lain adalah iklan. Iklan apa pun aku lihat pasti melibatkan perempuan. Baik iklan kendaraan, obat, pakaian dalam, bahkan pompa air dan cat pun menggunakanperempuan. Tidak tanggung-tanggung mereka berbalut pakaian sexy. Kadang aku melihat tidak ada kolerasinya antara cat dengan bokong/rok perempuan. Kalau pun memang cat itu mudah kering kenapa harus menggerakkan rok setinggi batas paha atas? padahal dengan berbalik saja bisa nampak kalaju cat itu mudah kering dan tidak mengotori kain.

Itu dasar cerita “iming-iming perempuan/perempuan adalah komoditi.” Sebuah perusahaan menggunakan perempuan sebagai strategi pasar. Perempuan jadi iming-iming untuk para lelaki berkunjung pada suatu tempat. Menurutku, hal ini penurunan peran perempuan. Perempuan hanya diposisikan sebagai umpan padahal perempuan bisa saja berperan lebih dari itu. selain itu perempuan hanya pemuas lelaki. Pemuas dalam nafsu memandang kemudian tidak sedikit berlanjut pada kenalan. Sekedar kenalan tidak menjadi masalah tapi bisa jadi memberikan peluang prostitusi. Jika prostitusi terjadi maka, berhasillah dunia industri membobrokkan mental dan moral orang-orang di Indonesia. Parahnya, kebobrokan mental itu langsung menyasar generasi muda.

Advertisements