Selamat Pagi, Lelakiku. Hari ke 35 yang panas.

Ini adalah surat ke 3 yang kutulis dan tak pernah aku kirimkan langsung kepadamu. Bukan soal rinduku karena pasti kamu tahu betapa ia selalu hadir bersama oksigen-oksigen yang ku hela. Kemudian menumpang hemoglobin untuk merajam sekujur tubuhku.

Kamu tak melewatkan begitu saja 24 jam milikmu untuk menyapaku dengan suara yang mengudara atau sekedar pesan singkat bernama basa-basi. Aku selalu ingat itu, maka aku pun menganggap setiap pesanmu biasa kecuali satu bahasamu, “berbagilah denganku seperti aku berbagi denganmu, Sehingga aku bisa melakukan apa keinginanmu.”

Dan Aku tidak pernah bisa menjawab permintaanmu. Ketika kamu memaksaku untuk bicara hanya bahasa ini yang bisa aku sampaikan, “Aku harus meminta apalagi? semua sudah kamu lakukan sebelum aku meminta.”

Lelakiku, akhir-akhir ini aku sulit terlelap. Aku sudah berusaha mematikan gadget dan lampu putih yang menempel pada kerangka jendela kamarku. Sungguh gelap dan tenang. Tapi otakku tetap terus bergetar seakan hendak menjebol ubun-ubunku. Badanku sekarang mudah sekali pegel padahal aku tak banyak bekerja paling hanya di depan komputer kemudian perjalanan kantor ke kamar itu saja. Dadaku juga sering sesak jika aku kelelahan atau sekedar memikirkan soal kita.

Lelakiku, Aku bukan perempuan empat tahun yang lalu. Rela membiarkan waktu melubangi setiap mili jantungku. Bahagia dengan sadapan-sadapan pada luka basah. Waktu telah melumpuhkanku, sekarang aku tak lagi mampu bertahan melawan ketidakpastian.

Oh, iya. Kamu jangan lupa makan biar cepet gendut ya…

Dariku yang beruntung memilikimu sekarang.

Advertisements