Selamat Siang, Sahabat kata.

Rasanya lama sekali aku tidak bercerita soal kehidupanku. Okay hari ini aku akan sedikit bercerita soal aktivitas menulisku. Bulan yang lalu aku pernah menulis soal cita-citaku yang terabaikan bukan? yaitu menulis. Nah. besok Minggu, 14 September adalah hari terakhir aku menulis novel perdanaku. Pada tanggal itu pula berarti sebulan aku melakukan ziarah pada yang hidup dan yang mati. Apa maksudnya? 

Ziarah pada yang hidup dan yang mati merupakan kata-kata dari guru menulisku, Savana Jingga Ayu namanya. Menurut dia, dengan menulis kita akan mencari tahu, mempelajari, dan memahami hal-hal di lingkungan sekitar melalui sebuah cerita. Hela napas dulu yuk. Kok cerita? Yah, bukankah sebuah cerita itu tersusun dari unsur-unsur mati seperti batu, air, pasir, api, dan lain sebagainya serta unsur-unsur hidup seperti tokoh cerita yang bisa jadi berupa tumbuhan, hewan, atau manusia. Kemudian semua unsur itu kita beri karakter dan ruh agar hidup seimbang dalam cerita. Awalnya sih aku tak paham tapi sering menulis “Saatnya berziarah pada yang hidup dan yang mati,” itu sih hanya usahaku untuk bisa mencintai aktivitas menulis dan ternyata berhasil. Lambat laun aku jadi mengimani aktivitas menulisku tanpa kusadari. Aku mulai menemukan waktu khusus menulis, bukan menulis status BBM atau FB lho ya. Satu jam lamanya. Jika aku tak melakukan itu rasanya aku belum melakukan apa-apa dalam hidupku. Aku Kecanduan.

Kecanduan menulis itu ternyata menyenangkan. Lebih indah dari pada mengisap kretek, sungguh. Tapi akan tambah nikmat ketika menulis itu ditemani kretek dan kopi hitam. Hahahahaha. Sahabat kata, efek kecanduan menulis itu antara lain:

1. Memahami diri. Aktivitas menulis mengajarkan kita untuk patuh pada sebuah kerangka agar cerita yang dibangun dapat terwujud dan tidak bleberan kemana-mana. Kepatuhan itu memaksa kita untuk bersabar dalam menulis, satu kata, kalimat, kemudian paragram. Emosi kita akan di uji. Sebuah cerita akan bagus ketika mengeluarkan detil. Jika kita tidak bisa menulis detil dalam cerita artinya kita tidak sabar untuk memahamkan kepada pembaca soal cerita ini. Ingat ketika cerita di baca harus bisa tergambar dalam pikiran pembacakan. “Membawa pembaca seperti nonton film lah,” begitu kata guruku yang gondrong.

2. Jiwa dan raga Sehat. Proses menulis itu mengaktifkan seluruh otak kita dan tentunya akan memperlancar aliran darah kita. Ini ada risetnya soal menulis menyehatkan mungkin link ini bisa jadi rujukan:

 http://bahasa.kompasiana.com/2011/04/07/menulis-itu-menyehatkan-352970.html

kalau aku sendiri sih, sembuh dari depresi 🙂 menulis aku gunakan untuk terapi emosi sejak SMA kelas 3. Dan aku sudah cukup puas bahkan sangat puas ketika marah, aku luapkan melalui menulis puisi, dan ternyata menulis menjadi media komunikasiku yang lumayan jitu akhir-akhir ini. Contohnya: aku tidak perlu berdebat dan menghabiskan tenaga dengan teman lelakiku, memang responya agak lama tapi itu justru memberinya jeda untuk berfikir dan flash back sehingga menemukan sebuah jawaban yang pas dari perdebatan kami. yah lebih tepat bisa meditasi juga 🙂

3. Kejutan yang bertubi-tubi. Menulis memang hal yang luar biasa bagiku. Dulu ketika aku pertama kali mengenal guruku yang dijuluki Seniman MS. Word oleh sahabat-sahabat kami, dia berkata, “Ketika aku menulis, Tuhan itu ada disampingku. Aku mengimani itu. Pernah aku menulis setting cerita sebuah tebing dan seorang yang hendak bunuh diri di tebing itu, di daerah Bima. Dan itu,” tangannya menunjuk seraya menekankan bagian selanjutnya, “benar adanya ketika aku sampai di Bima dan aku turun dari mobil tebing itu ada di hadapanku.” Huhh! rasanya masih belum pudar perkataan 8 bulan lalu dan sekarang, aku mengalami keajaiban kata-kata itu, sahabat kata. Kemarin ini, ya tanggal 7 September aku menulis sebuah setiing warung soto dengan 8 motor yang terparkir rapi di depan warung serta satu mobil livina warna putih di sebelah kiri gerobak soto. Dan apa yang terjadi Pagi tadi jam 9.30 aku sarapan dengan teman lelakiku di sebuah warung soto yang settingnya sama persis dengan itu. Huh Setelah motor kami parkir dan aku turun dari jok belakang  aku kegirangan. Sungguh rasanya itu Wow! persis apa yang aku tulis. “Pah, ini sama seperti dalam novelku yang aku tulis kemarin sore. Sebentar aku menulis antara 6-8 motor kalau tidak salah,” kemudian aku menghitung dan jumlahnya 7. Posisi mobil livina putih itu sama persis dengan cerita. Subhanallah. Tuhan… Kejutan apa lagi yang hendak ku terima tapi aku harus tetap sabar 🙂

4. Aku Adalah Tuhan. “Aku adalah tuhan bagi karakter-karakter dalam cerita,” ucap guruku yang ceking dan berhidung mancung. Betapa kekuasaan itu hak mutlak dalam tangan ku untuk menuliskan karakter dan garis hidup si tokoh cerita. Kejutan lainnya ternyata ketika aku mengimani menulis cerita itu datang sendiri tanpa aku bersusah payah memikirkan. 

5. Peka. Menjadi penulis mengajarkanku lebih sensitif pada sebuah perubahan baik perilaku mau pun alam dari pada dulu sih yang sebodo amat. Kepekaan ini memperkuat karakter cerita untuk memasukkan nilai-nilai kehidupan sosial. Betapa tidak berartinya sebuah tulisan yang puitik namun tak ada kesan dan pengalaman yang lebih. Sama saja cerita itu mati.

Nah, sahabat kata itu pengalamanku, setelah novel ku ini jadi, aku akan melanjutkan draft novelku yang sebenarnya ingin aku selesaikan sejak lama tapi justru cerpen yang baru saja aku tulis berkembang lebih dulu jadi sebuah novel. Doakan aku ya sahabat kata untuk istiqomah dalam menulis dan membawa kebaikan serta pengalaman untuk pembaca. Semoga kalian semua akan mendapatkan hal yang sama dari apa yang sudah kalian imani. aamiin

Advertisements