Angin malam ini tenang walau keriuhan mengantarai mereka. Sinar, untuk pertama kalinya bertemu dengan Cahaya, gadis yang baru saja ia kenal dari jejaring sosial. Sebagai pemandu acara lepas, Cahaya tidak putus akal untuk memulai pembicaraan yang akrab namun berjarak meski Sinar lelaki yang menggoda mata. Percakapan ringan untuk saling mengenal seperti kebanyakan orang lakukan, kedai kopi menjadi tempat pilihan. Kali ini bukan kopi tapi Cahaya mencoba menyesap coklat panas yang tidak pernah ia lakukan, hanya habis seperempat cangkir, dan kemudian beralih pada air mineral. Coklat ia paksa telan untuk menghormati teman barunya. Beberapa batang rokok lembut keluaran sampoerna dihisap dengan mulut seksinya. Kepulan asap mengantarai mereka berdua.

“Coklat bukan pilihan pas untuk mengawinkan sebatang rokok.” Ucap Cahaya setelah menyesap kopi dari sendok yang berlumuran coklat.

“Mengapa?” Sahut Sinar.

“Kopi pahit adalah cintanya yang sejati. Batang rokok ini akan menyempurnakan kenikmatannya begitu juga sebaliknya. Hidup bukan menyempurnakan yang sempurna, tapi membentuk kesempurnaan dari kekurangan.” Kemudian Cahaya menyesap dalam batang rokok yang dijepit dengan ujung jempol dan jari telunjuknya.

“Engkau benar Cahaya, perjuangan adalah segalanya.” Timpal Sinar sambil mengangkat cangkir coklat kemudian menempelkan pada bibirnya beberapa detik.

“…itulah proses yang akan mendewasakan.” Cahaya melebarkan senyumnya.

…Sinar, adalah pendengar yang baik, matamu tak pernah lepas ketika orang lain mengajakmu berdiskusi, tapi kadang senyummu yang tanggung membuatku sedikit geli kemudian aku terpaksa berhenti bercerita kemudian melepaskan gelak tawa…

Cahaya tak henti-hentinya mengamati layar gadgetnya. Bukan mengagumi, tapi mengamati karakter dari lelaki yang baru saja ia temui. Ujung jempol dan jari kanannya menyempit dan melebar di permukaan gadget berukuran 5″ warna ungu.

…Hem, sesuatu membebani matanya yang sayu. Senyumnya terpaksa mengembang menutupi kepelikan. Pasti, suatu saat ia akan berbagi denganku. Sudah terlalu lama ia menyimpan kegetiran. Sendiri. Sinar, kau melakukan kesalahan ketika memandangku. Matamu berbicara…


-000-

“Kau lihat lampu warna-warni di sana, Aya?” Jari telunjuk Sinar mengarah pada lampu yang selalu berganti display bentuk dan warna.

“Sedari tadi aku melihatnya. Ada apa?” Jawab Cahaya sambil mengarahkan wajahnya ke Sinar.

“Indah bukan?” Imbuh Sinar.

“Iya.” Cahaya nampak penasaran dahinya sedikit mengernyit.

“Aku ingin menjadi lampu itu, agar aku bisa membahagiakan siapa pun yang melihatku.” Ungkapnya perlahan.

“Membuat bahagia itu tidak harus jadi orang lain, dengan menjadi diri sendiri, dan orang lain senyum dan gembira berada di dekat kita. Itu cukup! Setiap manusia itu punya kebahagiaan yg bisa diciptakan sendiri hanya saja tidak semua menyadari.” Jawab Cahaya.

Angin gunung mulai bertiup kencang, lampu-lampu kota di bawah seperti kunang-kunang yang berbaris membentuk formasi menjadi pembeda daerah satu dengan yang lain. Bandara, jalan raya, dan perbukitan terlukis olehnya. Jalanan mulai sepi hanya beberapa kendaraan yang melewati tanjakan disebelah mereka duduk bercengkerama. Jam menunjukkan 23.30. Mereka memutuskan untuk kembali pulang.

 -000-

 “Sinar, Kau lihat di luar sana? hampir semua orang yang kita temui berpendapat kita adalah pasangan. Yah, pasangan curhat begitu aku menjawabnya. Pernahkan engkau melihat dalam kejauhan yang hening?” Ucap Cahaya.

Malam ini adalah keheningan. Mereka dihadapkan pada sebuah sidang sosial yang membantu mengurai kepelikan. Ketika anak kunci tinggal diselipkan pada gemboknya terlewat sia-sia bukan sebuah akhir. Buru-buru bukan jalan yang baik menjawab sebuah peluang karena setiap peluang beresiko yang mungkin lebih besar dari peluang berikutnya. Berserah pada waktu dan terus melangkah.

Dunia ini memang sempit, pelik, dan butuh kesabaran dalam menyikapi hidup. Kota yang tak asing dari kata pendidikan mempertemukan Cahaya pada beragam masalah hidup dari ekonomi hingga hubungan sosial. Sinar salah satunya dan Cahaya terjebak pada cerita yang sama. Hubungan yang berpolarisasi antara Bintang, Cahaya, Sinar, dan Asoka. Bintang, sahabat Sinar yang kocak abis berparas hitam. Asoka, wanita dewasa yang terperangkap pada kegalauan rumah tangga. Hanya Cahaya orang baru di antara Bintang, Sinar, dan Asoka yang sebenarnya adalah teman satu angkatan ketika di bangku sekolah lanjutan tingkat atas.

Tidak ada hubungan istimewa di antara ke empatnya. Tapi memang masalah mempertemukan mereka dalam cerita layaknya FTV. Sinar dan Bintang tempat curhat Asoka perihal rumah tangganya.

“Aya, aku punya pikiran si Asoka ini gimana ya sama aku?” Sinar membuka perbincangan.

“Sinar, apa yang telah kau lakukan padanya?” Selidik Cahaya sambil tersenyum.

“Sepertinya dia menyukaiku.” Sinar mulai berasumsi.

“Aku tahu apa yang kau perbuat pada Asoka demi kebaikan rumah tangganya, tapi engkau lupa. Wanita lebih menuruti angan-anganya ketimbang logikanya. Mengapa logika lelaki 99% dan perasaan perempuan 99% karena mereka akan saling melengkapi. Maka berilah batas antara perasaan dan logika. Bantu ia memaknai kata-katamu yang sesungguhnya lepas dari urusan perasaan. Kecuali engkau memang mengharapkannya.” Papar Cahaya yang berusaha netral dalam permasalahan ini.

“Lalu aku harus bagaimana?” Sinar mengernyitkan dahi.

“Minimal hindarilah memberi jawaban ketika ia menceritakan masalah rumah tangganya. Kalau kau tega delcont! Seperti saranmu kepadaku.” Senyumnya terkembang.

 -000-

PHP atau tidak itu tergantung daya tangkapmu dalam menerima dan memaknai sebuah percakapan. Terkadang kita harus mengambil alternatif “saling menyakiti” demi sebuah kebaikan. Semoga bermanfaat meski sedikit melukai. (Mawar Berduri-Penulis)

 

 

Advertisements