Semalam (24 Juli 2014), saya menghadiri undangan buka bersama di rumah sahabat, berjumpalah saya dengan teman lama dan juga baru. Saya bersama dua sahabat lelaki saya, memilih sudut rumah di luar pagar dengan duduk beralaskan tikar. Kami membincangkan fenomena Indonesia saat ini. Membicarakan pengembalian jati diri Indonesia sebagai Bangsa Maritim, mungkin ini juga ada kaitannya dengan cawapres yang memiliki perusahaan perkapalan. Selain itu kami membicarakan beberapa keberhasilan Era Sukarno yang mampu mendirikan bangunan-bangunan megah seperti Tugu Pancoran, Monas, TMII meski proses pembangunan jatuh pada Orde Baru, dan Garuda Wisnu Kencana yang mandeg hingga kini.

Orde lama, tahun 60-an siapa yang tak tahu era itu, Era yang katanya ada pemberontak yang dinamai PKI, aku sih tahu tapi aku tidak mengenal. Sebelum saya belajar lebih dalam setahun terakhir. Fakta PKI yang digubah oleh pemangku kekuasaan selanjutnya memang fenomenal dan dramatis sukses meracuni setiap darah orang-orang yang sengaja ditutup mata dan telinga. Saya termasuk yang tidak dikenalkan dengan PKI. Tapi fakta tidak akan pernah hilang meski dikuburkan. Di sisi lain, dokumen-dokumen hidup dan mati masih dapat aku jumpai di lingkunganku.

Apa hubungan antara kesadaran memilih, orde lama, PKI dan bukti? yah kemarin saya membaca artikel di kompasiana yang dibagikan lewat jejaring sosial facebook berikut linknya

http://m.kompasiana.com/post/read/670234/2/pks-vs-pki.html

dalam link itu merupakan pendokumentasian kultwit seorang profesor dari universitas airlangga, masa akan diragukan keilmiahannya, silakan sahabat kata membaca sendiri soal fakta PKI dan PKS. Kemudian mari kita hadapkan dengan fenomena pilpres kali ini. siapa mengusung siapa dan tentunya motor politik itu bagaimana… silakan ditafsirkan sendiri. banyak sekali link yang memberikan pencerahan kepada saya, salah satunya ini

http://www.youtube.com/watch?v=WQgQKnW3n0E

tontonan yang wajib diperhatikan untuk tersadar dalam menilai presiden terpilih, and who is the losser? bagi saya tidak ada yang kalah dalam pemilihan capres kali ini karena semuanya menang dihati timsesnya, Namun Hati Rakyat memang tiada duanya 🙂 mari kita bandingkan dengan link berikut ini:

https://www.facebook.com/mr.abanz?fref=ts

https://www.facebook.com/elzhaizha

semu boleh membandingkan, dan kata temanku, timses adalah cerminan dari capres yang didukung, hihihi, mohon maaf saya ngakak dulu….agak lama dikit boleh, ya 🙂

Memang, pilpres telah usai, penetapan pemenang oleh KPU juga terlewati. Tapi entah Indonesia ini bagaimana, kok masih ada saja skenario pembatalan. Padahal capres-capres kali ini punya darah jawa harusnya bisa sama-sama legowo. Apa itu legowo, legowo bisa jadi nama seorang lelaki tapi juga bisa di sebut “Let It Go Wo” yang pasti arti dari kata legowo ada narimo ing pandum, halah apa lagi ini. Bingung yak 🙂 gak buru-burukan? jadi tahan sebentar hehehe

Bolehlah kita bertarung, tapi harus sportif, ikhlas dan lapang dada menerima keputusan baik kemenangan dan kekalahan tak perlulah berbicara mencla-mencle yang akhirnya menunjukkan kalau tidak siap dengan pertarungan. Tapi ya bagaimana lagi, mungkin posisi ketika muda dulu sudah membentuknya menjadi yah, apapun itu bisa dilakukan tanpa harus turun tangan, padahal tidak semua pekerjaan atau permasalahan bisa diselesaikan dengan cara itu.

 Saya melihat, menejemen konflik pakde Prabs ini OK, Ok banget malah gak ada tandingannya pada kenyataannya karir militer kala itu melejit. Mungkin dia lupa bahwa Indonesia ini mengedepankan musyawarah mufakat dan kompetensi pakde prabs nilainya dibawah pakdhe Joko. Dan justru gaya pakdhe joko ini yang dipilih oleh rakyat karena sesuai dengan filosofi hidup orang Indonesia. Saya rasa pakdhe Prabs mengerti soal ini tapi karena Garuda Sakti dinaptolkan warna merah jadi ya nilai-nilai itu tidak terlihat lagi oleh Pakdhe Prabs.

Yah, cukup sekian sahabat kata, ini hanya sebuah kegelian saya soal fenomena akar rakyat yang menjadi piramida terbalik dalam sebuah kepemimpinan Indonesia mendatang dimana presiden akan benar-benar “distir” oleh rakyat dan mudah-mudahan tidak ada kekecewaan mendalam setelah pelantikan esok, karena sahabat kata memilih dengan penuh kesadaran.

Mari kita kawal, Presiden terpilih!

Advertisements