Hari ketujuh di bulan ketujuh dua ribu empat belas laik ditulis 07/07/14 pada layar monitor komputerku. Hari kedua masa tenang kampanye pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Indonesia periode 2014-1019. Hari ini juga bertepatan dengan penurunan logistik pemilu esok 09/07/2014.

Pukul 10.30 aku berangkat menuju kantor Sigab di Jalan Wonosari dari Joglo Abang, Mlati. Biasanya aku memerlukan waktu 45 menit perjalanan. Hari ini aku hampir dua jam perjalanan  dan harus berputar-putar di Pasar Prayan, Kota Gede. Tapi, bukan itu yang ingin ku bicarakan. Dua jam itu aku perkirakan hanya karena aku kelelahan dan selo sepertinya.

Sahabat kata, sepanjang perjalanan hari ini tidak begitu macet, hanya saja banyak pengamanan di sana-sini, khususnya tempat pemungutan suara (TPS) baik oleh corps coklat maupun corps ijo. Mereka yang sering dijuluki pemilik jalan berlalu lalang dengan pakaian PHH lengkap, bergerombol dalam truk kedinasan, dan atau berboncengan dengan sepeda motor. Sebuah kewajaran mengantisipasi kebocoran mau pun kecurangan oknum-oknum berkepentingan. Bukan sebuah keanehan fenomena lima tahunan seperti ini.

Kali ini aku memperhatikan alam, langit jogja hari ini tak mengijinkan barang satu jam untuk matahari menyapa bumi. Entah di langit kalian, sahabat kata. Apakah demikian pula? Tiada angin yang bertiup, yang ada hanya hawa basah. Badanku sedikit merinding ketika mengendarai motor walaupun telah berjaket, mungkin aku sedikit kurang enak badan. Itu tidak penting.

23.30 aku melintasi jalan raya dari Krapyak, Bantul menuju jalan Godean, kemudian Joglo Abang, Mlati. Di langit rembulan menggantung separo seperti belahan semangka yang tak rapi. Awan mendung mengitarinya. Hawa basah menyapu jaket favoritku. Dingin malam itu biasa tapi jika dinginnya sampai menusuk dinding jantungku ini bukan hal yang biasa. Tak ada lalu lalang yang berbarti malam ini hanya saja, ramai dengan preman berseragam.

Preman-preman berseragam coklat mau pun ijo berbalut jaket hitam yang tetap nampak dari sepatu PDL mau pun PDH menyertai perjalananku. Mungkin mereka baru selesai urusan logistik pemilu tapi aku juga berpikir lain apakah operasi senyap itu memang adanya? Sore tadi satu setengah jam setelah buka puasa, aku mendapat pesan broadcast untuk menentukan pilihan kepada om wowo dari salah satu temanku, preman ijo di Banda Aceh. Serta merta aku menjawab “Mas, kok gak netral.” Ini sebuah pelanggaran menurutku. Secara profesi dia tidak diperbolehkan memihak salah-satu calon walau pun itu satu komando, apalagi ini masa tenang. Hal gila apa yang terjadi di Indonesi saat ini?

Setiba di kampung selatan Joglo Abang. Biasanya pukul 00 kampung ini masih ada warga yang sekedar bercengkerama di pos kampling, warung burjo, atau di pengkolan. Malam ini tidak. malam ini benar-benar tenang, setenang alam raya yang mengistyaratkan basah dan sedikit gelap. Sampai di Joglo Abang, sepi tidak seperti biasanya. Apakah ada jam malam untuk hari ini. Entahlah, kesunyiaan yang aneh. Apakah  ini hanya perasaanku yang memang lagi sepi. Halah bukan saatnya curcol! Okay tapi yang pasti aku sekarang tahu mengapa dulu papaku melarang aku mengenal lebih dalam dunianya.

Sahabat kata, ini hanya asumsiku semata tak perlu kau risaukan teramat dalam. Dulu semasa aku SMA papaku selalu berpesan tidak usah seperti papa. Dunia papa sangat rekoso. Bajingan-bajingan ada di dalamnya, Kamu harus tunduk pada atasan biar pun dia salah sekali pun. Dulu aku tak percaya. Sekarang dunia bertutur pada ku tentang kebenaran perkataan papaku. Segala cara demi sebuah kepentingan koloni “Halal” termasuk menculik, membunuh, dan menganiaya, serta mengebalkan diri pada Hukum.”

Muncul dalam benakku kini, tolong sahabat kata jika engakau memiliki jawaban, beri tahu aku. Siapakah pemilik Indonesia Raya? mengapa persaiangan antara bekas jendral yang bermasalah itu dengan seorang abdi masyarakat begitu sengitnya, seakan-akan mereka takut akan datang sebuah prahara? Mereka yang sipil selalu dikebiri.

Mereka mengatasnamakan jiwa korsa. Senasib sepenanggungan yang tidak pernah aku pahami dari sebuah kemunculan pasal satu selalu benar. Di mana otak mereka? yah, sahabat kata, ternyata sudah pukul 1.10, aku sudah sedikit lega dengan menulis ini, Siapapun capres yang kau pilih ingat pelanggaran HAM pernah dilakukan oleh pendukung mereka. satu atau dua yang pasti sila ke tiga, persatuan Indonesia 🙂

 

Advertisements