Pesanmu Keramat!

Dua bulan yang lalu, aku berjanji padanya akan menemani ke rumah sakit. Sampai detik ini belum juga aku mendampinginya. Ia adalah lelaki milenium yang tak pernah pipis dari anunya. Nah, malam ini adalah malam ke dua ia mengirimkan pesan permintaan padaku setelah dua bulan yang lalu ia menginginkan namanya disebut di puncak Prahu. Senin, 20 Juli 2015 ia mengirim pesan via BBM

7:47 PM

Saa

Mks wktu itu udh pernh panggil namaku di prau

J

Akhirnya td sampe dieng jg

8:13 PM

Alhamdulillah…

Syelamat

Besok pagi aku ke watu kodok

8:14 PM

Iyaaaa

Jd nya sama siapa?

Ogt

8:14 PM

Aku mempercepat jadwal krn ternyata maksimal tgl 5 agustus

Sama radit, temenku fotografer

8:15 PM

Iyaaa2

Hati2 yaaa

Lancar2 semuanya

8:15 PM

Siap

Aamiin

8:17 PM

Saaa

Aq boleh minta 1 hal terakhir?

8:17 PM

Kok terakhir

Apa sih

8:18 PM

Kalau misal aku “pergi” duluan…tolong, bukunya tetep di tulis ya…bukunya nggk penting bagiku…yg paling utama, buku itu bisa menjadi penyemangat “org lain”…

Mksh yaa Saa

8:22 PM

Iya pasti don, pasti aku tuliskan. Tapi, kamu juga harus bicara ketika buku itu selesai

Aku tertahan, kuletakkan ponselku dan menutup kedua mataku dengan kedua tanganku, mataku basah. Hatiku gemetar.

8:30 PM

Don, aku belum kelar mempelajarimu, jadi kamu harus bertahan. OK. Kamu gak tega                     toh kalo aku nangis. Jd jangan buat aku nangis

Pokok e sepulang dari watu kodok aku akan menemuimu

8:31 PM

Iyaa

Tepat pukul 21:15 aku mengutip percakapan ini. Aku berjanji padanya ketika lebaran hendak main ke rumahnya, namun kemarin Minggu, ia bersama keluarga tengah melancong di Malioboro. Aku tertahan. Melalui whatsapp ia bertanya padaku

Saa, warna kesukaanmu apa?

Merah sama item

Aku belikan sesuatu untukmu

Gelang owl

Wah.. suka, makasih ya don.

Aku dan ia memang baru saja saling mengenal dan tidak sulit bagi kami untuk akrab. Setiap aku punya waktu luang aku mengunjunginya di opis (sebutan untuk kantor Jogja Up date) sekedar bercengkrama tak penting sampai aku curhat habis-habisan soal pribadiku. Kadang ia bilang kamu galau terus, sa, kapan nulis soalku. Sontak aku tertawa keras. Aku menjawab dengan enteng, nanti kalau aku sudah mengenalmu.

Kalau aku kelelahan dan kesehatanku drop, dia sangat cerewet padaku. Ia sering menyuruhku menenggah sebotol tanggung minuman berion yang direkomendasikan oleh dokternya saat aku mengalami diare. Ia jelaskan beberapa jenis obat diare yang sebenarnya tidak mempan. Sa, banyak minum air putih, makan dan istirahat uang cukup, kamu harus jaga kesehatanmu lho.

Ya, percakapan-percakapan kecil yang tak pernah ku sangka dari seorang doni, lelaki milenium.

….. nantikan cerita selanjutnya, ya…. Aku menulis ini karena aku gak ingin kehilangan pesan keramat ini.

Advertisements

BERPROSES untuk DIRIKU dan HARAPANMU

Selamat pagi, Sayang.

Semoga kamu baik2 saja. Aamiin. Bukannya aku tak mau belajar dari yang kamu sebut “kesalahan”. Bukan aku tak bisa mengalahkan “keegoisan” ketika kamu bilang semua tidak harus sekarang. Dan bukan aku tak “bersabar” ketika kamu akan mengabulkannya lain kesempatan.

Aku yang tak mudah menyimpan ekspresiku, yang tak pandai menjaga perasaanmu, dan yang kasar dalam ucapku, hingga kamu sering mengalah untukku. Bukan tak mau belajar dan memilih stag yang kamu bilang “monoton.”

Bicaralah padaku sebuah alasan kenapa aku tak boleh ini itu di AWAL, seperti yang sering kamu ajarkan padaku. “Kita mau kemana?” dan kamu menanti paparanku.

Tapi, Sayang. Kadang sebuah kebutuhan itu datang bersamaan, saat aku benar-benar membutuhkanmu dan kamu sudah ada “kontrak” dengan teman-temanmu kadang menjadi pelik bagiku.

Insha Allah kalau kamu menjelaskan, “Tidak usah ikut ya, aku sudah janji memboncengkan temanku Si B, karena motornya rusak. Perjalanannya juga jauh. nanti kamu capek dan kamu kan mau belajar bersama Mas Bayu.”

Aku bisa menahan keinginanku.
Aku tidak ingin menuntutmu yang macam-macam kesepakatan di awal masih kuingat lekat2. Dan aku selalu menahan mulutku untuk TIDAK MENGAKUMULASIKAN MASA LALU. Aku harap kamu juga begitu.

Aku yang terus BERPROSES untuk DIRIKU dan HARAPANMU. Tidak ingin menjadi diri sendiri karena belum tentu baik dan memilih untuk menjadi pribadi yang baik. Jaga kesehatan, ya. jangan sampai telat makan.

Diet Stagen

Hai Sahabat Kata,

Siang yang cukup panas kali ini dan suasana Ramadhan yang kurang berasa menurutku. Kali ini aku akan berbagi tips diet yang sudah aku lakukan sejak november 2014 hingga saat ini masih aku pertahankan. Aku menyebutnya DIET STAGEN.

Sebelum masuk pada langkah diet aku jelaskan lebih dulu apa tujuanku berdiet:

  1. Membuat BB ideal. TB 158 cm, BB 67Kg saat itu. Target 50 kg
  2. Membuat napas lebih panjang.
  3. Mengurangi risiko penyakit jantung karena hasil dari rekam jantungku ternyata detak dari bilik kanan dan bilik kiri itu tidak bersamaan.
  4. Mengurangi risiko diabetes melitus karena aku punya keturunan yaitu nenek dari mamaku dan papaku sendiri.

Kemudian aku olahraga dan mencari instruktur untuk melakukan itu. Ternyata kata instrukturku:

  1. Pilih saja olah raga yang menyenangkan.
  2. Atur porsi makan.
  3. Istirahat yang cukup.
  4. Maksimal turun 2kg dalam sebulan, agar tidak jadi penyakit!

Kata kunci pertama adalah Atur porsi makan. Wow! susah pasti ya menekan porsi yang biasa banyak kemudian harus dibatasi. Apalagi aku paling anti dengan makanan sisa. Aha, aku ingat cara tradisional yang dilakukan oleh nenekku, Stagen. Stagen adalah kain panjang biasanya 5-10m yang lebarnya sekitar 10 cm dan cara memakainya adaah dililitkan dari panggul hingga bawah tulang rusuk. Fungsinya menekan rongga perut. Stagen dapat dibeli di pasar tradisional untuk per 5 meter dengan harga sekitar 23-25 ribu di daerah jogja.

Kenapa harus stagen, tidak korset? begitu pertanyaan teman-temanku. Korset itu, seelastis apapun dia akan melar, tapi stagen, dia akan sebaliknya bisa dikencangkan sesuai keinginan kita.

Bagaimana rasanya menggunakan stagen? Hem, susah sih awalnya, pasti lepas-lepas atau melipat dan menyatu seperti tali melilit peru. Kalau pun rapi pasti ada sisa dagig yang muncul di bagian atas. Pada awalnya aku menggunakan stagen 4jam per hari, tapi setelah terbiasa max 8jam per hari. Pernah aku menggunakan stagen 24 jam saat perjalanan ke Madura menggunakan motor, wuh, tulangku serasa nyeri semua. Aku menggunakan stagen setelah mandi pagi atau kalau bepergian jauh. Kalau dirumah tak perlu misalnya Sabtu atau Minggu. Ok itu masalah stagen.

Olah raga, aku lebih suka dengan jalan kaki, lari, mendaki, disko dan berenang. Ini adalah olah raga favoritku selain sekalian piknik tubuhku juga sehat. Paling mudah adalah jalan kaki, tidak harus jauh, dan sangat mudah dilakukan sehari-hari. Jalan dari kamar ke dapur, berdiri dan pindah tempat setelah duduk 2 jam, ke kamar mandi, main ke rumah tetangga, ke warung. Lari, mungkin perlu waktu khusus begitu juga dengan mendaki gunung. Berenang bisa dilakukan seminggu sekali. Disko, aku lebih suka melakukannya ketika di kost atau saat sambil menulis. Mungkin agak aneh bagaimana bisa disko sambil menulis. Yah, sambil duduk mungkin sesekali ketika capek menggerakkan badan sambil duduk atau menggoyangkan kaki sesuai irama. Terpenting adalah bergerak. Aku lebih suka musik remik.

Makanan dan cara mengaturnya. 

Dua bulan pertama, aku mengganti sarapan dan makan malamku dengan smooties sayuran dan buah-buahan. Kombinasinya juga sesuai kesukaan. yang pasti sesuaikan dengan kondisi tubuh. Siang hari aku makan nasi sebanyak-banyaknya. Bebas mau maka gorengan, ayam, telur, apapun.

Dua bulan kedua, aku mengganti smooties dengan jus. Makan nasi sehari 2 kali dengan takaran 1 kali makan menjadi dua kali makan. Jam makan bebas sesuaikan dengan kebutuhan. Kurangi makan gorengan. Jika biasanya sehari makan gorengan 6. Minggu pertama makanlah gorengan 4 saja, begitu seterusnya sampai kamu bisa makan gorengan 2 hari sekali saja. tapi makannya maksimal 4 gorengan aja ya. Jangan lupa minum air putih minimal 8 gelas sehari. Buah dan sayur dibanyakin. Minum susu boleh juga, sesuai kesukaan juga. hahaha nikmatkan diet stagen ini.

Yakin bisa berhasil. Ini yang penting keyakinan berhasil, punya tujuan yang jelas, dan melakukannnya dengan riang gembira serta sabar pasti berhasil. Karena aku berhasil sudah turun 7 Kg di bulan Juni 2015. Kalau kamu bisa menggunakan stagen dan tahan 8 jam aku yakin rongga perutmu akan mengecil kemudian kamu akan mudah kenyang :).

Efek. Ketika berat badanmu turun, badanmu tidak akan kendur karena diiringi olah raga dan penurunan berat badan tidak turun drastis. Aku sekarang bisa tahan seharian tidak makan nasi. Bahkan ketika sehari makan nasi 3x badanku akan merasa mudah capek dan lemes seperti orang masuk angin. Tidak mudah lelah.

Sahabat Kata, kalau kalian hendak mencoba diet stagen ini, konsultasikan dulu dengan dokter pribadimu. Setidaknya kamu tahu kondisi dan kebutuhan tubuhmu. Hentikan diet ketika kamu menjadi sakit. Selamat mencoba semoga berhasil. Salam Sehat.

Lelaki Milenium

Aku menyebutnya lelaki milenium. Sekarang hidupnya telah mencapai tahun ke 35. Wajahnya seperti lelaki seumuran 29 tahun. Paling suka berkata konyol dan tak pernah absen mengundang gelak tawa. Dia rajin mengingatkanku menenggak minuman berion meskin hanya 600ml perhari. “Aku kan sayang kamu, sa,” ucapnya suatu hari ketika aktivitasku memadat.
“Karena kamu akan menuliskan ceritaku,” lanjutnya penuh harap.

Lelaki milenium itu sejak umur 1 tahun 3 bulan selalu mengunyah permen-permen khusus dari dokter hingga akhirnya permen itu menjadi racun bagi tubuhnya. Tahun ke 10 perjalanan hidupnya, dokter yang berusaha mempertahankan hidupnya justru menyampaikan kabar yang pernah mereka prediksi, “Gagal Ginjal.”

Berbagai terapi medis dia jalani. Cuci darah, yang menurutnya sebuah penyiksaan hingga akhirnya sekarang dia memiilh CAPD (Continuous Ambulatory Paritoneal Dialysis), bahasa sederhananya adalah mengeluarkan cairan dialisis yang disimpan di dalam rongga peritoneal pada jangka waktu tertentu kemudian menggantinya dengan cairan baru.

Aku pernah mengintipnya ketika melakukan CAPD. Dia mengawali CAPD dengan mencuci tangan kemudian menyiapkan pelaratan yang dia perlukan. Lelaki milenium itu berkulit sawo matang. Perlahan dia singkap bajunya ke atas, ada perban dan selang (kateter) yang keluar dari perut tipisnya. kemudian ujung selang yang sepertinya berjarum itu ia tancapkan pada kantung cairan semacam infuse tapi berukuran 2x lipatnya. kantung yang berisi cairan itu dia gantungpan pada tempat yang lebih tinggi dan kantung yang kosong ia letakkan di bawah. Kedua kantong itu terhubung selang dan menyatu melalui ujung selang yang di luar perutnya.

“Don, kamu tadi pipis, ya?” tanyaku usai dia membereskan alat-alat yang asing bagiku.

“Itu namanya CAPD,” jawabnya sambil menurunkan kacamata yang selelu bertengger di hidungnya. gagangnya berwarna merah.

“Katamu, kamu masih bisa ereksi,” aku pun penasaran.

“Tapi aku gak bisa pipis sambil ngerasaain geli kaya kamu.” kemudian dia melanjutkan aktivitas di depanm komputernya.

“Gak bakal najis donk,” sahutku polos.

tunggu cerita selanjutnya, ya….

Purnama ke 9

Selamat siang, kekasihku. Ternyata kita sudah menapaki purnama ke sembilan. Banyak yang sudah aku dapatkan dan aku pelajari dari karaktermu.

Aku telah mengambil banyak risiko dalam hubungan ini termasuk yang sudah aku pelajari saat kita masih menjadi teman. Tapi bukan aku, lari dari sebuah risiko. Meski kesakitan, meski menangis semalaman, atau harus lari malam-malam.

bukan salahmu, karena kamu pernah berpesan, “di depan nanti kamu pasti kecewa denganku,” begitu kamu mewanti-wantiku untuk bisa selangkah mengendur. Pun, “kamu akan susah meninggalkanku.”

Suatu saat jika memang kamu tak bisa melihat ketulusanku, aku akan lebih kencang berlari bukan untuk mundur tapi maju untuk meninggalkanmu. Mari kita buktikan.

Kesakitan-kesakitan yang berkoloni dan meminta perhatian kemarin cukup memberiku pelajaran. Betapa dirimu tak perduli lagi pada perasaanku meski kamu sering bilang padaku. “Mereka tak perlu kau hiraukan,” begitu selalu kamu meiyakinkanku.

baik lah, untuk saat ini aku bisa menyembuhkan semua karna kamu bilang, “bahagia itu kita yang menciptakan,” tapi apakah kamu tidak pernah berpikir jika kebahagiaan itu juga dapat muncul dan tenggelam karena orang sekitar? karna kita tidak bisa hidup sendirian. Mungkin maksudmu adalah untuk egois. lain hal.

Ah, itu hanya penilaianku ketika aku marah padamu.

Mari kita buka dengan kepala dingin, bahwa akar masalahnya adalah pada diriku sendiri. Mengambil banyak risiko dan berharap banyak kamu akan memperhatikanku ketika aku sempoyongan membawa dan menyelesaikannya. tapi ternyata nihil. Pernah sekali aku marah padamu. Menuduhmu bahwa aku adalah pacar figuranmu. Itu rasaku hampir sebulan benar-benar aku merasakan jijik padamu.

inginku marah dan mengatakan pada dunia, aku mengendap. untuk apa? pikirku ulang. Semoga cukup aku yang menjadi perasa. dan perempuan selanjutnya bisa lebih tegar dan memang kamu membalas setimpal perasaannya.

Napak Tilas

“Aku Gila,” begitu teriakku dalam hati. Hanya air mata yang sanggup keluar dengan deras.

Hari minggu kemarin, seharian suntuk dadaku sesak, pikiran pun penat. Tengah hari, Pembaringan jadi tempat aku mengadu, aku terlelap diiringi isakku.

Senja membangunkanku dari pintu kamar yang memang berada di lantai dua. Kepalaku kliyengan, jantungku berdegup tak karuan, napas mulai tersengal. “Aku harus mencari udara segar,” sambil ku kemasi ransel dan netbook.

“Tapi, aku harus kemana? yang aman dan nyaman,” Aku menghubungi temanku ternyata dia tengah sibuk dengan laporan penelitian soal kretek.

“Aku butuh akses internet untuk mengerjakan laporan bulanan ini. Yah, Joglo. Udara pasti bersih, akses internet pun lancar,” Segera saja aku menuruni anak tangga dan mengeluarkan motorku dari garasi kemudian menuju Joglo Abang. Aku butuh waktu sekitar 10 menit dari kostku di kricak kidul untuk sampai di Joglo abang yang letaknya di Gombang, Tirtoadi. Sudah kutarik gas sekencang mungkin tapi rasanya tetep saja lama.

Aku masih terngiang dengan sebuah makian pagi tadi. Air mata pun jebol. Jilbabku basah. Lebay sekali. Tapi memang begitu. Seingatku, terakhir menangis sebulan yang lalu tepat sehari sebelum ulang tahunku. Masalah dengan orang yang sama.

Ternyata, Joglo bukan pilihan tepat. Air mataku terus saja mengucur tanpa henti. Pekerjaan setengah jadi. Aku memutuskan untuk kembali ke kost. Napas pun menjadi berat.

Tidak cukup malam itu.

Senin pun memaksa menyapaku. Rutinitas kantor mau tak mau harus kusetubuhi. Tapi hatiku tetap saja gundah, tetap saja sakit. Aku memutuskan untuk menyendiri dan berusaha menghabiskan sisa air mata. Belum juga sampai di ruang yang aman, dasar air mata seperti air terjun yang deras. Aku tak kuasa menahan isak. Aku harus profesional. Begitu pikirku.

Rutinitas kantor berakhir seperti biasa, jam 4 sore. Aku pun pulang. Taukah? aku jalan kebablasan. Rute pulang pun berubah. Aku galau memilih jalanan, namun pada akhirnya aku sampai juga di kost. Baru saja sampai di kost. Kurebahkan tubuhku, ku lepas jilbab dan ikatan rambutku. Aku nangis lagi.

Akhirnya aku memutuskan untuk pergi. Oh, iya aku punya boots baru. Sudah ku beli Jumat lalu dari honor sebuah kesibukan 3 hari. Rencananya boots itu hendak kugunakan untuk touring. Tapi karena suatu hal aku harus batal mengikuti itu. 6 bulan aku menahan diri untuk tidak melakukan itu tapi sekarang gagal lagi. Tak apalah, ya.

Aku menghubungi teman sekantorku para perempuan muda yang memiliki hobi sama denganku. Kami kencan bertiga. Di sana di lantai teratas sebuah gedung pusat penjualan elektronik di kota Jogja, kami melampiaskan motif masing-masing. Seperti yang kebanyakan kita ketahui, Karaoke itu 1% hobi dan 99% curhat.

Bagiku, tempat ini memiliki cerita tersendiri. Ruang 12 di lantai ini, 10 bulan yang lalu aku menempatinya sebagai penanda sebuah pertemuan. Tapi sayang bukan ruang itu yang harus aku tempati. Aku harus menyusur 3 ruang lagi, ruang 15. Jam 8.45 malam, aku memasukinya, sendiri, teman-temanku belum datang. Mereka terjebak hujan.

Aku termangu sebentar. Kemudian memilih lagu. Cinta terbaik. Lagu yang pernah ku nyanyikan 10 bulan yang lalu di ruang 12. Mendadak suaraku jadi bagus, yaiyalah aku doang yang nyanyi gak ada yang komentar. Sebuah kegilaan selama dua jam. Semua yang kurasakan ku lampiaskan lewat lagu, sampai-sampai suaraku serak. Jam 10 malam acara gila ini berakhir.

Aku melanjutkan kegilaan ini. Aku memaksa lelakiku untuk mengendarai motor king-nya. Dia pun mengingatkanku kalau malam ini hujan. Dia khawatir kalau aku akan jatuh sakit. Tapi aku tetap meyakinkannya. Aku tidak apa-apa. Ayo kita berangkat.

Dikontrakannya tidak ada Si Bule Malang yang biasa terlentang di depan tv.

“Loh, Si Bule kemana, Pah?” tanyaku penasaran.

“Sudah pulang kemarin,” jawab lelakiku sambil mengeluarkan kingnya.

“Bagus,” jawabku kegirangan.

“Kok malah bagus?” dia heran.

“Ya, gegara dia aku sudah beli boots baru dan gagal aku pake untuk touring bersamamu kemarin. Sekarang kita touring berdua,” Paksaku.

Sepanjang perjalanan aku navigatornya. Sesuka hatiku harus belok ke mana. Tujuan Awal aku ingin ke Kaliurang. Ya, setidaknya sepadanlah ya dengan rute touring kemarin. Namun cuaca tak mendukung niatku. Sampai di Jakal km 5 ujan turun sedikit deras. Kami terpaksa berteduh di sebuah toko 24 jam. 5 menit kami menunggu reda kemudian melanjutkan hingga jakal km 8 dan kembali berteduh. Sekitar 15 menit kami menunggu hujan reda.

Aku tidak bisa egois, dia bisa sakit kalau aku paksa untuk mengantarku sampai kaliurang. “Tadi, naik mobil aja pasti dah nyampe,” protesnya.

“Sudah sering aku naik mobilmu,” jawabku sedikit kecewa.

“Ya, tapi kan liat kondisi,” ucapnya menenangkanku.

“Berapa kali kamu touring?” tanyaku sambil menempelkan tubuhku pada bahunya yang sejajar dengan bahuku karena dia duduk di atas motor sedangkan aku berdiri.

“Selama itu juga aku menahan untuk tidak naik motormu ini. Aku sudah beli boots dan tidak ingin mubadzir,” protesku.

“Kan, jauh, nanti kamu hanya kecapaian. Toh tahun baru kemarin kamu juga aku boncengkan dengan motor ini,” suaranya mulai meninggi.

“Dari kontrakan sampai km 0? Mana ada sensasinya?” Aku pun tak mau kalah meninggikan suaraku.

Kemudian hanya rintik hujan dan suara knalpot kendaraan yang memenuhi malam ini. Gelapnya depan toko yang sudah tutup dan dua gundukan pasir mengapit kami menambah dinginnya suasana.

Hujan mulai reda. “Lalu kita mau kemana?” tanyanya.

“Kita pulang saja, aku gak mau kamu sakit karena malam ini,” ujarku. Kami bersemuka. Setidaknya kamu sudah menurutiku.

“Kita ke tugu ya,” pintaku kemudian menaiki jok bagian belakang,” Nguooook… ku rapatkan tubuhku dengan punggungnya, kukencangkan peganganku yang melingkar di perutnya. Wow ini sensasinya. Hahaha Aku menjerit kegirangan, namun dalam hati. Takut dibilang ndeso.

Jakal Km 8, jalan lurus hingga terban kemudian belok ke kanan menuju tugu. Lampu appil di tugu kebutulan hijau. “Pah, puterin tugu,” pintaku. tanganku menunjukkan arah untuk memutar. Padahal aturannya tidak perlu mengitari tugu kalau untuk benyebrang ke kanan.

“Ealah, nduk…” ucapnya dan menuruti saja komando tanganku. Dia memutar motornya dan menuju arah stasiun tugu. Sengaja dia pilih jalan yang tidak rata, seperti 10 bulan yang lalu. Kala itu kami menaiki sekuter yang beda tapi sama-sama dalam posisi membonceng. Dia mengendarai dengan pelan dan merasakan setiap gundukan aspal kecil di sepanjang jalan mangkubumi. Begitu seterusnya sampai di lampu appil jalan mataram.

“Pah, lewat KM 0 ya,” dia pun menuruti saja.

“Kita pernah duduk di situ, waktu itu kita naik sekuter,” kenangku sambil menunjuk bangku cor yang berbentuk lingkaran di depan hotel Ina Garuda. Dia masih mengendarai dengan pelan hingga KM 0. Kami berhenti karena lampu Appil merah. Aku menoleh ke kanan. Dan kita pernah duduk berdua dibangku yang itu. Bangku taman yang berbentuk lingkaran dan di tengahnya ada pohon. Kenangku dalam hati.

“Pah, masuk alun-alun, ya.” pintaku lagi.

kali ini dia menjawab, “Becek, ndut.”

“Ah, tidak apa-apa, yang penting kita masuk,” Kami memasuki area alun-alun utara jogja melalui pintu parkir sebelah barat. Belum juga sampai di tengah aku sudah memintanya untuk berputar balik.

“Kita ke alun-alun kidul, ya.” Kami mengambil jalan dari alun-alun utara ke arah pasar ngasem kemudian tembus di kandang gajah. Dia hendak memarkirkan motornya.

“Jalan, aja pah, kan becek, kita ke plengkung gading ya,”pintaku.

Dia memarkir motornya di depan lampu yang tiap 10 detik berubah warna di area parkir plengkung gading alun-alun kidul. Kami menyempatkan berpoto. Kemudian melangkah menuju atap paling tinggi di plengkung gading.

10505063_10203650949414182_4195692185914720620_o

“Pah, inget gak setahun lalu di sini, kamu bawain ranselku,” ucapku sambil meletakkan ransel yang sama dengan yang aku ucapkan.

“Sudah setahun, po” protesnya sambil berbalik arah.

“Eh aku sudah setahun sarjana, ya.. em salah sepuluh bulan ding,” ralatku.

“Gak hanya ransel, sepatumu juga,” imbuhnya.

10157253_10202006435862371_1492353852370269460_n

Dia duduk di lengkungan. Aku pun menyusul. “Ayo, kita poto lagi, dulu poto kita blur waktu di sini.” ucapku kemudian menemukan senyumnya yang berkembang.

“Terima kasih, ya, Pah.” ucapku sambil nyengir.

“Untuk apa?” jawabnya datar.

“Udah selo malam ini, muterin tugu, hujan-hujanan, dan kedinginan.” cerocosku.

Aashiqui 2 : Ketulusan dan Kepercayaan

Semalam aku nonton film aashiqui2 banyak hal yang aku dapat dari film india berdurasi sekitar dua jam. Film itu bercerita tentang seorang penyanyi bernama Rahul Jayekar. Dia solo vokal yang amat sangat terkenal dan tampan. Sifat buruknya adalah dia pemabuk dan pecandu narkoba. Tentu karakternya temperamental dan mudah tersinggung. Suatu ketika saat dia naik pentas salah satu penonton melempar kaleng minuman kepadanya. RJ begitu nama tenarnya langsung naik pitam dan turun panggung kemudian berkelahi dengan pelempar kaleng itu. Kemudian pergi dalam kondisi marah dan menenggak alkohol dengan mengendarai mobil.

RJ kaget ketika tiba-tiba seorang permpuan berjalan di depan mobilnya. Ia pun kaget dan membanting setirnya ke kiri hingga menabrak pohon. Kap depan mobil itu ringsek, asap pun mengepul dari dalamnya. Perempuan berambut panjang bergelombang yang mengenakan potongan kaos ketat dan rok panjang  tiba-tiba marah kepada RJ. Sayuran semacam tomat dan kentang terburai di jalanan akibat perempuan berambut gelombang itu kaget karena hendak ditabrak RJ. Ia meminta RJ untuk memunguti semua barang yang terburai.

Singkat cerita ternyata perempuan berambut gelombang itu seorang penyanyi bar. Suaranya sungguh indah bahkan perempuan itu mampu menyanyikan lagu RJ dengan begitu bagusnya. RJ yang melihat perempuan itu nyanyi di bar kemudian berusaha untuk mengorbitkannya. Aarohi nama perempuan itu. Ia anak perempuan tunggal dari keluarga tak mampu. Dia juga mau bekerja apa pun asal dapat uang.

Tidak semulus yang dibayangkan Aarohi untuk menjadi bintang. Manager RJ menghalang-halangi niat RJ untuk mengorbitkan Aarohi. Yah, namanya juga niat baik atau memang niat sutradara yang baik, akhirnya Aarohi pun terkenal lebih terkenal dari RJ.

Seiring naiknya karir Aarohi turunlah si RJ. banyak cemooh yang dia dapat dari penggemarnya dulu. Tuduhan demi tuduhan mampir ketelinga RJ, langsung. mulai dari orbitan Aarohi adalah setingan sampai dengan Aarohi pernah dia “pake.” Mental RJ memang tak sekuat baja. Ia sungguh terpukul maka kembalilah ia pada alkohol. sampai ia benar-benar kehabisan uang karena ia tak mungkin rekaman lagi. Suaranya berubah.

Namanya juga film 2 manusia itu saling jatuh cinta. Aarohi yang merasa utang budi pun pernah membiarkan panggilan produser rekaman demi menggembalikan mental Rahul. Ia berucap “Aku bukan siapa-siapa tanpa Rahul.” Segala usaha Aarohi merawat Rahul sampai benar-benar ia memastikan bahwa Rahul membaik dan meninggalkan Alkohol.

Saat Rahul mulai move on dari alkohol datanglah lagi cemoohan kepadanya soal Aarohi. Sekuat tenaga ia menahan untuk tak menghampiri Alkohol. Lagi, ia menenggaknya dan kembali untuk pergi selamanya. Yah setelah semalaman ia berada di samping Aarohi orang yang dia kasihi. Ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat dari jembatan. Aarohi pun sangat melihat kekasihnya mati dengan cara mengenaskan begini. Ketika ia sudah merasa mengembalikan mental RJ.

Pelajaran berharga dalam film ini adalah:

1. Masalah bukan untuk dihindari, tapi untuk diselesaikan

2. Ketulusan tak pernah bisa digeser oleh apa pun.

3. Cinta bukan untuk mencari kesempurnaan, tapi untuk menyempurnakan.

4. Sekecil apa pun usaha pasti berbuah hasil.

5. menjadi seorang yang logis itu baik tapi sesekali gunakan intuisi untuk sebuah keputusan.

6. Perempuan penyeimbang kehidupan.

7. Perempuan pemelihara kasih, ketulusan, dan kepercayaan.

Pertemuan ke Dua

Tok..tok..tok.. suara dari balik pintu kamar.
“Ya, masuk..” jawab Soraya sambil membetulkan jilbabnya.
Pagi ini cukup cerah dan bergairah. Setelah absen dari pekerjaan sehari kemarin, Soraya siap kembali menjalani aktivitas di kantor.

Daun pintu terbuka, ada seorang perempuan di balik pintu. Rambutnya yang lurus terurai, “Oh, di sini, tho,” ucapnya sambil tersenyum kemudian kembali menutup pintu kamar. Wajahnya berias, matanya yang bulat bergaris tegas.
“Iya, ” jawab Soraya dengan sedikit bingung, “Nyari mas, ya, ada di belakang.”
Kemudian tak ada jawaban lagi.

Soraya kembali membetulkan jilbabnya. Em, siapa ya dia tadi? kok wajahnya gak asing. Ah, mungkin kawan atau anaknya pemilik kontrakan, tapi kok ketok pintu langsung membuka, duh. Ah biarlah. Soraya selesai berkemas-kemas dan siap berangkat ke kantor.

“Pah, pah,” ucapnya lembut. Tidak ada jawaban.

Soraya membuka pintu kamar, Sinar pun membuka dari luar.
“Pah, tadi ada cewek masuk ke kamar, siapa?” tanya Soraya sambil membetulkan ransel di punggungnya.
“La, siapa? kamu kenal gak?” ucap Sinar yang tak kalah bingung.
“Siapa ya? itu sepertinya kawanmu, Asoka.” Soraya mengingat-ingat sambil mengenakan sarung tangan warna ungu, ” Ngapain juga pagi-pagi datang ke rumah orang,” ucap Soraya sedikit dongkol.
“Dia mau nitip barang untuk teman.” timpal sinar sambil duduk di atas kursi ruang tamu.

“Hehehehehe… Kaget aku, lupa-lupa ingat abisnya gak pakai jibab, dulu kan dia pakai jilbab. Sebenarnya aku ngefans lo sama dia, abisnya cantik, kaya artis,” ucap Soraya sambil mengenakan masker ungu. Sarung tangan, dan masker warna ungu serasi dengan kaos kaki dan celana panjang yang terbuat dari kain jeans.

“Artis apa?” ucap Sinar heran, masih dalam posisi duduk diatas sofa warna hijau.
“Ah, itu artis FTV, nanti aku kasih tahu namanya, aku sedikit lupa,” Soraya mengarahkan pandangannya pada Sinar. “Aku berangkat dulu ya, Pah,” pamitnya dengan akhiran kecupan di pipi kanan Sinar.
“Iya, hati-hati, ya.” ucapnya sambil mengantar Soraya sampai pintu depan.

Bingkisan Istimewa

Minggu, 18 Januari 2015

Dua puluh enam tahun yang lalu, aku dilahirkan sebagai anak urutan pertama di suatu keluarga sederhana. Tak banyak yang aku tahu soal masa kecilku, kecuali yang diceritakan oleh Mama, Papa, Kakek, Nenek, Om, atau Tante kepadaku.

Cucu pertama baik di keluarga mama maupun papa sekaligus menjadi cucu perempuan pertama, aku selalu digadang-gadang untuk bisa menjadi kebanggaan. Orang tuaku selalu memanjatkan doa dan harapan padaku ketika kami bersemuka.

Suatu sore saat aku masih duduk di sekolah dasar, “Dik, sekolah yang pintar, ya, kamu itu anak kebanggaan papa, kamu juga contoh dari adik-adikmu, nanti kamu juga yang akan menggantikan posisi papa,” ucap papaku sembari mengendarai mobil.

Lain hal dengan mamaku, perempuan yang kini sudah mulai menemui senja tidak pernah meminta apa pun kecuali untuk tidak meninggalkan Tuhanku. Dia tidak pernah menegurku secara langsung, lebih sennag dengan nada sindiran, “Aku tidak pernah mengajari anak-anakku untuk tidak sholat,” itu selalu terlontar ketika aku bermalas-malasan menunaikan ibadah.

Aku tidak hanya punya mama dan papa, tapi aku juga punya bapak dan ibu. Bapakku adalah adik dari papaku. Bapakku tidak punya keturunan setelah menikah selama 20 tahun dengan ibuku. Kemudian aku dianggap sebagai anak mereka. Satu harapan dari bapakku adalah menikahkanku. Suatu sore yang cerah, ketika umurku sudah genap 20 tahun, “Besok kamu menikah umur 24 saja, sudah cukupan itu,” ucapnya sambil menyeruput teh buatan ibu.

Belum satu pun dari ketiga harapan itu aku wujudkan 🙂

Hari ini, Kepada Tuhan Sang Sutradara Hidupku, terima kasih atas bingkisan-bingkisan istimewa yang Kau berikan padaku melalui makhluk-makhluk istimewaMu. Lewat mereka Kau persiapkan aku untuk bisa mewujudkan harapan-harapan orang tuaku. Doa-doa mereka terus mengalir dari dini hari kemarin, doa-doa yang luar biasa menurutku, doa yang ikhlas mereka panjatkan untukku.

Darinya kekasihku, R Prasetyo Diwiryo , yang Kau pinjamkan saat ini, memohonkan padaMu agar aku tambah dewasa dan bisa berkurang cugetanku. hahaha. Terima kasih tuhan, kau pinjamkan dia dengan penuh kesabarannya.

Dari teman-temanku:Heri Mtx,Nabil Algibran,Raditya AN Jati,Sofi Sulistyo,Ardy Jendral Lapangan Tengah,Spectrum Supriantho,Yulia Fitriyani Sutadi,Suntoro Dani Grunge,Joni Yulianto,De Kris,Sapto Nugroho, Edo Caniago,Brita Putri Utami, Wanti Aja,Oni Agung Kurnia,Nur Neneng Widya,Andi Pupung,M Rida Restanti,Indah Laksita,De’tri Murni,Fajar Nurendah Kurniasari,Ngudi Prasetiyo,Sri Lestari,Lisa Febriyanti,Jarwadi Mj,Niyya Fani,D Sekar Kencono,Wahyu Tri Arto,Saktya Rini Hastuti, Ngudi Prasetiyo, tim: Laskar Inklusi dan Festival Film Disabilitas.

Tuhan, meraka memohonkan untukku: sehat, bahagia, panjang umur, sukses dalam karir dan hidup, cepet nikah, banyak anak, selalu dalam lindunganMu, usia, rejeki, ilmu dan klrgaku makin barokah. Tetap merdeka dlm berpikir dan bertindak. Dan segala doa yang lainnya serta tak pernah ku pinta dari mereka itu kumohonkan kepadaMu Pemilik Semesta, kabulkanlah untukku dan mereka. Aamiin

Tolong kabulkan Ya, Allah. Soalnya aku tidak bisa memberikan traktir makan-minum untuk mereka, jadi aku traktir doa saja kepadaMu karena Kamu lebih mengerti apa yang terbaik untuk mereka. 🙂

Mau jadi apapun kalian dalam hidupku, kalian telah mempunyai porsi sendiri dalam hatiku. Terima kasih atas kebersamaan dan pelajaran yang kalian berikan padaku.

 

 

 

 

 

 

 

 

Surat untuk lelakiku #4

Lelakiku, aku harap kelak kamu tak menahan langkahku untuk berkembang setelah kita berteduh pada atap yang sama. Bukan maksudku untuk bebas keluar masuk meninggalkan istana kita, melainkan untuk mempersiapkan diriku jika suatu saat kita terpuruk. Meski aku tak pernah mengharapkan itu terjadi.

Lelakiku, mendidik anak, saling menopang kebutuhan rumah tangga, dan segala tetek bengeknya menjadi tugas bersama kita. Suatu saat, kita dapat bertukar peran untuk melakukan semua itu.

Lelakiku jadilah teman terbaik dalam hidupku